Tentara Indonesia dan AS akan Gelar Latihan Militer Gabungan di Laut China Selatan

Latihan tahunan tersebut kali ini akan melibatkan ketiga matra militer dan lebih banyak negara.
Arie Firdaus dan Dandy Koswaraputra
2022.04.08
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Tentara Indonesia dan AS akan Gelar Latihan Militer Gabungan di Laut China Selatan Dalam foto yang diambil dari video di akun FB Puspen TNI tertanggal 8 April 2022 ini, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa (tengah) memimpin pertemuan antara TNI dan Tentara Komando Amerika untuk Indo-Pasifik dalam membahas Latihan Bersama Super Garuda Shield, di Jakarta.
FB Pusat Penerangan (Puspen) TNI

Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan militer Amerika Serikat akan menggelar latihan gabungan yang meliputi perairan Natuna di Laut China Selatan pada Agustus dengan melibatkan semua matra ketentaraan, ungkap juru bicara TNI Angkatan Darat (AD) pada Jumat (8/4).

Latihan bersama yang bertajuk Super Garuda Shield akan dilaksanakan pada 1-14 Agustus dan akan mengikutsertakan Angkatan Laut, Darat dan Udara, kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen. Tatang Subarna.

Latihan Bersama Super Garuda Shield tahun 2022 diselenggarakan oleh Mabes TNI dengan melibatkan tiga matra,” kata Tatang kepada BenarNews.

“Latihan akan digelar di perairan Natuna dan sekitar Baturaja,” ujarnya.

Tatang menolak memberikan informasi lebih banyak, namun dalam laman TNI AD disebutkan bahwa latihan bersama itu selain di Baturaja, Sumatra Selatan juga akan dilakukan di Amborawang, Kalimantan Timur.

Laman tersebut juga menyebutkan bahwa Garuda Shield-16/2022 akan melibatkan banyak negara selain Indonesia dan Amerika Serikat, yaitu Inggris, Kanada, Papua Nugini, Timor Leste, Australia, Malaysia, Singapura dan Jepang.

Akun Twitter terkait keamanan dan pertahanan Indonesia, Jatosint, menyatakan “(Latihan) serangan udara dan amfibi di Kepulauan Natuna juga diusulkan.”

Dalam pertemuan dengan perwakilan tentara Komando AS untuk Indo-Pasifik di Mabes TNI di Jakarta, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menegaskan bahwa latihan bersama yang digelar tahun ini memang akan melibatkan banyak elemen dan banyak negara. “Kami berharap ini dapat meningkatkan hubungan baik di kawasan Asia Pasifik,” paparnya seperti dikutip dalam tayangan video di FB Puspen TNI pada Jumat (8/4).

Dalam kesempatan tersebut Wakil Panglima Komando Amerika untuk Indo-Pasifik Mayor Jenderal Matthew McFarlane, mengatakan bahwa mereka akan “bekerja dan beroperasi secara berbeda setiap tahunnya untuk meningkatkan kompleksitas dan skala yang lebih besar dan akan terus melaksakan kolaborasi dan dialog.”

Indonesia dan Amerika Serikat secara rutin menggelar latihan gabungan setiap tahun dalam kegiatan bernama Garuda Shield

Latihan gabungan terakhir digelar pada 1-14 Agustus 2021, bertajuk Garuda Shield XV, melibatkan Angkatan Darat kedua negara dan tercatat sebagai latihan gabungan terbesar sepanjang sejarah kedua negara.

Digelar di tiga wilayah yakni Makalisung, Sulawesi Utara dan di Baturaja serta Amborawang, TNI AD menerjunkan 2.161 prajurit sementara AD Amerika Serikat mengerahkan 1.547 tentara.

“Sinyal kepada China”

Pengamat militer Universitas Indonesia, Arie Afriansyah, menilai rencana latihan tersebut secara tidak langsung merupakan sinyal kepada China bahwa Indonesia tidak sendirian jika Beijing terus bersikap agresif di kepada negara Asia Tenggara, terutama dalam kawasan Laut China Selatan.

"Latihan gabungan itu secara tidak langsung mengirim sinyal kepada China bahwa mereka harus berhati-hati dalam bermanuver di Laut China Selatan," kata Arie kepada BenarNews.

Terlebih, lanjut Arie, Aquilino dalam pernyataan setelah bertemu Andika mengutarakan bahwa latihan gabungan itu bertujuan untuk menjaga stabilitas kawasan.

Syahdan, ujar Arie lagi, "Bisa dimaknai bahwa Indonesia juga mengirim sinyal bahwa kita punya 'teman' yang akan membantu jika kesulitan. Indonesia tidak akan sendirian."

"Bukan berarti kita menjadi sekutu AS dengan latihan tersebut, tapi secara geopolitik kan jelas bahwa Amerika ingin mengimbangi pengaruh Cina di kawasan."

Tak cuma dengan Indonesia, seperti dilaporkan BenarNews, militer Amerika juga telah menggelar latihan bersama dengan militer Filipina.

Latihan bersama bertajuk Balikatan tersebut digelar 28 Maret hingga 8 April 2022 dan tercatat sebagai latihan gabungan terbesar yang pernah diselenggarakan kedua negara, berlangsung di Quezon City.

Filipina mengirim 3.800 tentara, sementara Amerika menerjunkan 5.100 personel.

Laut China Selatan

Tahun lalu, China dilaporkan meminta Indonesia menghentikan kegiatan pengeboran minyak dan gas bumi di Laut Natuna yang mereka klaim berada di wilayah Nine-Dash Line dan menyatakan keberatan atas latihan militer TNI bersama AS.

Nine-Dash Line adalah garis demarkasi yang dijadikan dasar oleh China untuk mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan.

Keberatan China itu disampaikan dalam bentuk komunike diplomatik yang dikirimkan dalam dua kesempatan berbeda sekitar Agustus dan September 2021, kata anggota DPR Komisi I, Muhammad Farhan kepada BenarNews waktu itu.

Indonesia tidak merasa sebagai negara yang memiliki sengketa di Laut China Selatan, namun memiliki klaim hak maritim yang bersinggungan dengan China di perairan dekat Kepulauan Natuna.

Pengadilan arbitrase Den Haag 2016 memutuskan tidak mengakui klaim sembilan garis putus China, namun Beijing menolak putusan tersebut.

Pemerintah Indonesia menganggap daerah tersebut sebagai zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia berdasarkan UNCLOS. Bahkan Indonesia mengubah nama wilayah perairan di ujung selatan Laut China Selatan sebagai Laut Natuna Utara pada 2017.

Rangkaian latihan bersama antara AS dan negara-negara Asia Tenggara tersebut --terutama yang terseret dalam sengketa Laut China Selatan seperti Filipina dan Indonesia, dinilai pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi sebagai upaya Washington untuk memberi pesan kepada Beijing agar tidak terus-terusan bersikap provokatif di Laut Cina Selatan.

"Bagi Amerika, mereka hendak memberikan sinyal agar China tidak main-main di kawasan itu," kata Fahmi kepada BenarNews, "Indonesia di satu sisi agak diuntungkan dengan komitmen Amerika tersebut."

Ia menilai, Indonesia dengan paham bebas-aktif sejatinya tidak ingin terseret dalam perebutan pengaruh negara-negara superpower seperti China, Rusia, atau Amerika Serikat.

Fahmi mencontohkan langkah militer Indonesia yang juga sempat menggelar latihan bersama dengan China dan Rusia pada Desember 2021, melibatkan Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lain.

Sementara latihan bersama dengan China pernah digelar pada Mei 2021 di perairan Laut Jawa, melibatkan angkatan laut kedua negara.

"Latihan gabugan ini menunjukkan bahwa kita bisa bekerja sama dengan semua pihak, enggak hanya dengan Amerika," kata Fahmi.

"Bagi Indonesia, latihan bersama Amerika bisa dilihat sebagai langkah cenderung pragmatis. Di satu sisi bisa mengurangi ancaman China di Laut China Selatan sembari terus meningkatkan kapabilitas angkatan bersenjata dari negara lain, tapi di sisi lain juga enggak mau kehilangan mitra dengan China."

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya