Follow us

3 Tentara Tewas dalam Kontak Senjata di Papua

TNI mengatakan setidaknya seorang anggota TPNPB tewas, namun ditepis kelompok separatis itu yang mengatakan anggotanya tidak ada yang terbunuh.
Victor Mambor & Ahmad Syamsudin
Jayapura & Jakarta
2019-03-07
Email
Komentar
Share
Sejumlah tentara berjaga di pos TNI di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, 15 Januari 2019.
Sejumlah tentara berjaga di pos TNI di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, 15 Januari 2019.
Victor Mambor/BeritaBenar

Tiga anggota TNI tewas dalam kontak senjata dengan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, Papua, Kamis pagi, 7 Maret 2019, saat puluhan anggota TPNPB menyerang tentara Indonesia yang mengamankan pengerjaan jalan Trans Papua, demikian kata pejabat militer setempat.

Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih, Kolonel Muhammad Aidi menjelaskan, kontak tembak terjadi saat 25 personel TNI yang ditugaskan mengamankan pembangunan jalan di Nduga diserang puluhan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), sebutan yang sering digunakan aparat keamanan untuk TPNPB.

“Pasukan TNI baru tiba di Distrik Mugi dalam rangka mengamankan jalur pergeseran pasukan, tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak sekitar 50-70 orang KKB campuran, baik senjata standar militer maupun senjata tradisional seperti panah dan tombak,” kata Aidi, yang menambahkan kelompok yang menyerang tersebut diduga dipimpin oleh Egianus Kagoya.

Kontak senjata tersebut terjadi setelah TNI mengumumkan pengiriman 600 anggota dari Makassar, Sulawesi Selatan, ke Nduga pada pekan ini untuk mengamankan dan melanjutkan pembangunan jembatan yang sebelumnya dikerjakan PT Istaka Karya, yang sempat terhenti setelah 19 orang pekerjanya tewas diserang kelompok Egianus.

Kelompok TPNPB pimpinan Egianus mengaku bertanggung jawab atas penembakan belasan pekerja yang membangun jalan Trans-Papua di Nduga, Desember lalu itu. Mereka menuduh pekerja itu merupakan anggota zeni tempur TNI.

Aidi tidak memberi penjelasan apakah anggota TNI yang tewas merupakan tentara tambahan yang dikirimkan dari Makassar.

“Kita sedang mengumpulkan informasi lebih lanjut,” ujarnya.

Dalam kontak senjata tersebut Aidi mengatakan ada korban jatuh di pihaknya.

“Tapi ada tiga anggota yang meninggal. Kita berhasil pukul mundur kelompok mereka dan berhasil merampas lima pucuk senjata.”

Mayat ketiga korban tewas adalah Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin dan Serda Siswanto Bayu Aji, telah dievakuasi ke Timika di Kabupaten Mimika, dengan menggunakan helikopter, jelas Aidi.

Bantahan TPNPB

Aidi menambahkan TNI menemukan satu jenazah diyakini anggota TPNPB, tapi dia memperkirakan antara lima sampai 10 anggota kelompok separatis itu tewas.

“Kita melihat langsung yang tertembak dibawa lari oleh kelompoknya. Lima orang dari mereka dipastikan meninggal karena tertinggal senjatanya,” ujarnya.

Namun keterangan Kapendam dibantah TPNPB melalui juru bicaranya, Sebby Sambom.

Sebby mengatakan baku tembak terjadi setelah anggota TNI menginterogasi seorang warga bernama Amos Kogeya dan membakar beberapa honai (rumah tradisional) milik warga Kampung Windi, Distrik Derakma.

Pembakaran honai, menurut Sebby, menarik perhatian TPNPB untuk mendatangi lokasi dimana rumah tradisional tersebut berada sehingga terjadi kontak tembak.

“TPNPB mengejar anggota TNI. Dalam kontak tembak ini, kami mendapat laporan lima anggota TNI meninggal. Kalau di pihak TPNPB tidak ada yang meninggal jadi tak ada mayat yang dibawa TPNPB,” ungkapnya.

Ia menambahkan ada seorang warga ditemukan tewas tertembak yaitu Amiri Nimiangge (52) yang sehari-harinya bertani.

Namun jenazah warga itu ditemukan di Yigi, kata Sebby, bukan di sekitar lokasi kontak tembak.

“Jenazah itu tidak ada hubungannya dengan kontak tembak yang terjadi. Yigi itu jauh sekali dari Derakma,” tegasnya.

Keputusan mengirim 600 tentara tambahan dikritik anggota DPR Papua dan warga Nduga yang mengungsi dari desanya.

Ratusan warga Nduga belum kembali ke desanya karena takut terjebak kontak senjata antara kelompok separatis dan aparat keamanan setelah kejadian penembakan akhir tahun lalu.

Kekerasan demi kekerasan bersenjata yang terjadi di Nduga, menurut aktivis Komite Nasional Papua Barat, Victor Yeimo, harus diselesaikan melalui cara-cara damai.

“Kami mendesak Komisi HAM PBB masuk ke Papua untuk melihat para pengungsi. Indonesia harus membuka kemauan politiknya agar konflik di Papua bisa diselesaikan secara damai dan demokratis melalui referendum,” ujarnya.

Seorang anggota DPR Papua, Laurens Kadepa, menyatakan rakyat sipil yang jadi korban konflik di Nduga, tidak bisa mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan secara maksimal.

Menurutnya, TNI menghadapi situasi yang sulit di Nduga karena anggota TPNPB bisa berbaur dengan masyarakat, selain menghadapi beratnya medan yang menjadi lokasi pengejaran.

“Saya turut berduka atas tewasnya anggota TNI dan warga sipil. Konflik kekerasan ini harus dihentikan secepatnya,” pungkas Kadepa.

Aparat kepolisian dan TNI hingga kini masih mengejar anggota TPNPB di bawah operasi yang dinamakan “Operasi Nemangkawi”.

Namun hingga kini belum ada satupun yang berhasil ditangkap, kata Aidi hari Rabu.

Pangdam Cenderawasih, Mayjen Yosua Pandit Sembiring menyatakan penambahan prajurit TNI itu akan memperkuat Kodam Cenderawasih karena luasnya wilayah Papua sementara keberadaan TNI di sana terbatas, selain mengawal pembangunan jalan Trans Papua.

Presiden Joko "Jokowi" Widodo telah berjanji untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur di Papua dan mengatakan bahwa pemerintah tidak takut dengan ancama kelompok bersenjata.

Pemerintah mengatakan pembangunan infrastruktur di Papua penting untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan propinsi paling timur itu yang masih tertinggal dibanding wilayah lainnya.

Namun banyak warga yang menilai hal ini hanya sebagai dalih Jakarta untuk mengeruk kekayaan alam Papua.

Tampilan selengkapnya