Follow us

Korban Tewas Akibat Tsunami Selat Sunda Capai Ratusan

Pakar mengatakan tsunami susulan dapat terjadi karena Anak Krakatau sedang aktif.
Keisyah Aprilia
Pandeglang
2018-12-23
Email
Komentar
Share
Foto udara memperlihatkan kondisi di Carita, Pandeglang, Banten pada 23 Desember 2018, setelah wilayah tersebut diterjang tsunami yang dipicu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau sehari sebelumnya.
Foto udara memperlihatkan kondisi di Carita, Pandeglang, Banten pada 23 Desember 2018, setelah wilayah tersebut diterjang tsunami yang dipicu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau sehari sebelumnya.
AFP

Diperbarui pada Senin, 24 Desember 2018, pk. 10:00 WIB

Korban akibat tsunami Selat Sunda yang melanda sejumlah wilayah di Provini Banten dan Lampung bertambah menjadi hampir mencapai 300 orang, sementara puluhan warga masih dinyatakan hilang, demikian disampaikan oleh pejabat berwenang pada Senin pagi, 24 Desember 2018.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam rilis yang diterima BeritaBenar, menyebutkan bahwa hingga Senin pukul 7:00 WIB, tercatat 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi, Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu/kapal rusak.

"Korban dan kerusakan ini terdapat d lima kabupaten terdampak yaitu Pandeglang, Serang, di Provinsi Banten, dan Kabupaten Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran, di Provinsi Lampung," demikian kata Sutopo pernyatan tersebut.

Korban dan kerusakan terbanyak terdapat di Kabupaten Pandeglang dengan 207 orang meninggal dunia, 755 orang luka-luka, 7 orang hilang, dan 11.453 orang mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 hotel dan vila rusak, 60 warung makan dan toko rusak, 350 perahu/kapal rusak, dan 71 unit kendaraan rusak.

“Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah karena belum semua korban dievakuasi, belum semua Puskesmas melaporkan korban, dan belum semua lokasi dapat didata,” kata Sutopo.

Tsunami yang terjadi pada Sabtu malam tersebut diakibatkan oleh longsor bawah laut karena pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatra.

Gunung berapi Anak Krakatau terbentuk pada 1927 setelah letusan gunung berapi Krakatau yang meletus dahsyat pada tahun 1883 dan menewaskan puluhan ribu orang dalam salah satu letusan terburuk dalam sejarah.

Anak Krakatau meletus 24 menit sebelum tsunami pada hari Sabtu, kata pihak berwenang. Pada bulan Agustus lalu, pihak berwenang telah memperluas zona berbahaya gunung berapi tersebut dari satu kilometer menjadi dua kilometer setelah gunung tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas.

Sutopo menyebutkan bahwa Badan Geologi pada Sabtu pukul 21.03 WIB mendeteksi Gunung Anak Krakatau erupsi dan menyebabkan peralatan  seismograf setempat rusak.

Namun, seismik Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus (tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan).

“Kemungkinan material sedimen di sekitar Anak Gunung Krakatau di bawah laut longsor sehingga memicu tsunami,” katanya.

“Banyak korban adalah wisatawan dan masyarakat setempat yang sedang berlibur,” kata Sutopo yang menambahkan bahwa tidak ada korban warga negara asing.

Presiden Joko “Jokowi’ Widodo yang sedang mengunjungi Kabupaten Tana Toraja di Sulawesi Selatan pada Minggu menyatakan duka cita mendalam kepada korban tsunami.

“Saya telah memerintahkan segenah jajaran pemerintah terkait untuk segera melakukan langkah tanggap darurat, mencari dan menemukan korban, merawat yang luka-luka,” katanya.

Tawaran bantuan juga datang dari komunitas internasional.

“Saya berharap diberikannya kekuatan dan semangat bagi para pemberi bantuan yang sedang bekerja pasca tsunami yang menghancurkan di sekitar Selat Sunda di Indonesia. Komisi Uni Eropa siap membantu upaya penyelamatan yang sedang berlangsung, ”kata Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker.

Amerika Serikat juga siap membantu, demikian kata Robert Palladino, wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, dalam sebuah pernyataan.

“Amerika Serikat menyampaikan belasungkawa terdalam atas hilangnya nyawa dan kehancuran akibat tsunami yang melanda Jawa Barat dan wilayah Sumatra bagian selatan, di Indonesia, pada 22 Desember. Kami akan terus memantau situasi dengan seksama dan akan berkomunikasi dengan pemerintah Indonesia,” katanya.

Band Seventeen

Tiga di antara korban tewas ialah personil grup Band Seventeen yang sedang manggung di Tanjung Lesung Beach Resort, Pandeglang, Sabtu malam, saat tsunami menerjang.

Mayat pemain bass Seventeen, M Awal Purbani, dan Road Manager mereka, Oki Wijaya, ditemukan pada Minggu pagi.

Sedangkan gitaris, Herman Sikumbang ditemukan tak bernyawa lagi, Minggu siang, kata Yulia Dian, perwakilan manajemen Seventeen dalam pernyataan tertulis.

Disebutkan juga bahwa drumer Seventeen, Andi, hingga Minggu sore belum ditemukan.

Sutopo dalam jumpa pers di Yogyakarta menyatakan panggung Seventeen yang sedang mengisi acara family gathering PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat berjarak tiga atau empat meter dari bibir pantai.

Video amatir yang beredar di media sosial, band Seventeen sedang bernyanyi. Tiba-tiba tsunami menerjang dari arah belakang panggung.

“Memang panggungnya membelakangi pantai tanpa ada peringatan, tanpa ada tanda-tanda menerjang," ujar Sutopo.

Korban tsunami yang tewas ditaruh dalam kantong-kantong jenazah di Carita, Pandeglang, Banten, pada 23 Desember 2018, setelah wilayah tersebut sehari sebelumnya diterjang tsunami yang dipicu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. (AFP)
Korban tsunami yang tewas ditaruh dalam kantong-kantong jenazah di Carita, Pandeglang, Banten, pada 23 Desember 2018, setelah wilayah tersebut sehari sebelumnya diterjang tsunami yang dipicu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. (AFP)

Panik

Sementara itu, warga sekitar Pantai Carita di Banten pada Minggu pagi sempat dibuat panik dan berlarian menyelamatkan diri setelah mendengar sirene peringatan tsunami dan adanya imbauan dari petugas keamanan untuk menjauh dari pantai.

Sejumlah video amatir yang beredar terlihat seseorang sambil memegang handphone merekam warga yang berlarian. Ada juga yang mengendarai sepeda motor dan mobil.

Truk tentara juga terlihat meninggalkan kawasan pantai, sambil mengimbau warga agar mencari jalur evakuasi ke tempat lebih tinggi.

Kepanikan itu terjadi saat para relawan dan aparat keamanan sedang berusaha mencari korban di antara puing-puing bangunan yang rusak diterjang tsunami.

Tapi hingga Minggu malam, tsunami susulan seperti diisukan oleh pihak tak bertanggung jawab tidak terjadi.

Indonesia dengan posisi geografis di Lingkaran Cincin Api yang aktif secara tektonik  di Samudera Pasifik kerap mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Gempa bumi dengan magnitudo 7,4 pada 28 September 2018 di Sulawesi Tengah memicu tsunami di sejumlah wilayah di provinsi tersebut dan menewaskan lebih dari 2000 orang.

Pada 26 Desember 2004, lebih dari 170,000 orang tewas di Aceh ketika gempa dengan magnitudo 9.1 yang memicu tsunami menerjang wilayah tersebut dan sejumlah negara di sepanjang pantai Samudra Hindia.

Pakar mengatakan tsunami susulan dapat menyerang Selat Sunda karena aktivitas gunung berapi Anak Krakatau yang sedang berlangsung.

"Kemungkinan tsunami lebih lanjut di Selat Sunda akan tetap tinggi karena gunung berapi Anak Krakatau sedang melalui fase aktif saat ini yang mungkin bbisa memicu tanah longsor lebih lanjut," kata Richard Teeuw, seorang profesor di Universitas Portsmouth di Inggris, kepada AFP.

Tampilan selengkapnya