Pemerintah akan Segera Vaksinasi COVID-19 untuk Anak 6-11 Tahun

Keputusan untuk memprioritaskannya pada wilayah yang 70 persen warganya sudah divaksinasi dipertanyakan pakar epideomologi.
Ronna Nirmala
2021.12.10
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Pemerintah akan Segera Vaksinasi COVID-19 untuk Anak 6-11 Tahun Seorang anak remaja menerima vaksin Sinovac COVID-19 di Pekanbaru, Riau, 9 Juli 2021.
AFP

Pemberian vaksin COVID-19 untuk anak Indonesia usia 6-11 tahun akan dimulai pada 24 Desember di daerah di mana 70 persen atau lebih orang dewasa sudah divaksinasi, kata pejabat kesehatan Jumat (10/12). 

Kementerian Dalam Negeri mengatakan vaksinasi anak bersifat wajib untuk mendukung kembali dibukanya pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah yang sudah dilaksanakan sejak Oktober lalu. 

“Untuk saat ini hanya vaksin Sinovac yang baru disetujui BPOM untuk anak,” kata Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 kepada BenarNews

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada November, telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin Sinovac yang diproduksi oleh perusahaan farmasi asal China bagi anak-anak usia 6-11 tahun. 

BPOM ketika itu mengatakan hasil uji klinis menunjukkan Sinovac menghasilkan imunogenisitas lebih tinggi pada anak dibandingkan dewasa dengan efikasi yang sama yakni 65,3 persen. Imunogenisitas adalah kemampuan yang dapat menimbulkan kekebalan terhadap suatu penyakit. 

Kementerian Kesehatan juga berencana menyediakan pasokan vaksin Sinopharm dan Pfizer untuk anak. Namun hingga kini, hasil evaluasi terhadap aspek imunogenisitas dua vaksin ini oleh BPOM masih belum rampung. 

Adapun pelaksanaan vaksinasi untuk anak akan dilakukan bersama otoritas sekolah serta pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). 

“Tentunya untuk di Puskesmas harus dengan menunjukkan KK (Kartu Keluarga) sebagai persyaratan nomor induk kependudukan,” kata Siti.

Bagi anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal, Siti mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial di masing-masing daerah pelaksana vaksinasi terkait pendataannya. 

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan sebanyak 4.600 dokter anak di seluruh wilayah Indonesia telah disiapkan untuk mendukung program vaksinasi untuk anak ini. 

Piprim mendorong kerja sama dari orang tua untuk ikut membujuk anaknya agar mau divaksin. Pasalnya, beberapa laporan hasil pembelajaran tatap muka menunjukkan adanya peningkatan kasus COVID-19 pada anak. 

Mengutip data dari Satgas Penanganan COVID-19 pada 1 November 2021, proporsi kasus anak terinfeksi COVID-19 mencapai 13 persen. Maka, menurut Piprim penting mengontrol penularan dan transmisi virus corona di Tanah Air. 

“Apalagi anak-anak selain bisa tertular juga bisa menularkan. Anak-anak banyak yang menjadi OTG (orang tanpa gejala). Oleh karenanya penting ada kerja sama dari pihak keluarga juga,” kata Piprim dalam keterangan tertulis IDAI. 

Sama seperti dewasa, vaksin anak diberikan sebanyak dua dosis dengan jeda antara pemberian pertama dan kedua adalah 4 minggu. 

Per Jumat, data vaksinasi COVID-19 untuk dosis pertama telah mencapai 145 juta, atau 69 persen dari target pemerintah 208,2 juta orang. Sementara dosis kedua sudah diberikan kepada 101,7 juta atau 48 persen orang. Namun jika didasarkan pada keseluruhan 270 juta penduduk Indonesia, maka warga yang tervaksinasi penuh baru 37 persen dan mereka yang mendapat satu kali suntikan adalah 53 persen.

Adapun sebaran kasus terkonfirmasi positif COVID-19 telah mencapai jumlah total 4.258.752 atau naik 192 dalam 24 jam terakhir, dengan kematian bertambah 5 orang menjadi 143.923.

Inklusivitas vaksin

Zudan Arif Fakrulloh, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, mendorong keluarga yang belum memiliki Kartu Keluarga untuk segera mendaftarkan diri mereka ke dinas dukcapil terdekat. 

“Kami mendorong semua warga yang belum dapat NIK agar responsif melaporkan diri mereka ke dinas dukcapil terdekat. Prosesnya tidak lama, perekaman data satu hari selesai,” kata Zudan kepada BenarNews. 

“Semua ini agar program vaksinasi bisa cepat dan merata. Karena NIK bukan penghalang,” katanya, melanjutkan. 

Dicky Budiman, pakar epidemiologi dari Griffith University di Australia, mengatakan program vaksinasi anak seharusnya dilakukan di semua wilayah, tanpa perlu mempertimbangkan seberapa banyak cakupan dosis pertama dan keduanya. 

“Untuk menyikapi Omicron, ya anak ini harus diposisikan sama dengan populasi lainnya, harus dijadikan bagian dari target 70 dosis pertama, bukan terpisah,” kata Dicky kepada BenarNews, merujuk pada varian baru virus COVID-19 yang mulai terdeteksi di berbagai negara, termasuk Singapura. 

Survei Penduduk Antar-Sensus oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 mencatat jumlah anak dalam rentang usia 0-17 tahun di Indonesia mencapai 33 persen dari total populasi, atau setara 83,99 juta jiwa. 

Adapun program vaksinasi untuk anak usia 12-17 tahun telah dimulai sejak Juli lalu. Per November, cakupan vaksinasi dosis pertama usia 12-17 tahun telah mencapai 55,77 persen atau 14,89 juta target 26,7 juta anak. Sementara, dosis kedua telah disuntikkan kepada 9,1 juta atau setara 34,4 persen. 

Sementara itu, Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cissy Kartasasmita mengatakan vaksinasi untuk anak penting segera dilakukan merujuk adanya potensi peningkatan mobilitas dan aktivitas publik jelang libur Natal dan Tahun Baru. 

“Dengan divaksinasi, anak bisa membantu mencegah penularan di keluarga dan lingkungannya,” kata Cissy dalam sebuah diskusi daring, Kamis.

“Anak dua tahun ke atas tetap dianjurkan menggunakan masker sesuai ukuran ketika berada di area publik,” tambahnya. 

Pekan lalu, pemerintah pusat membatalkan rencana penerapan pembatasan mobilitas ketat selama libur perayaan Natal dan Tahun Baru di seluruh wilayah Indonesia, dengan alasan kasus yang tetap rendah walau ada kekhawatiran awal tentang varian baru yang diduga lebih menular. 

Meski dibatalkan, Kementerian Perhubungan akan tetap memberlakukan kebijakan ganjil genap di kawasan wisata prioritas untuk mencegah adanya penyebaran virus akibat penumpukan orang. 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya