Follow us

Warung Menyatukan Mantan Napi dan Korban Terorisme

Kusumasari Ayuningtyas
Solo
2018-11-30
Email
Komentar
Share
Direktur Perlindungan BNPT Brigjen Pol Herwan Chaidir menggunting pita sebagai tanda peresmian PopWarung di Solo, Jawa Tengah, 30 November 2018.
Direktur Perlindungan BNPT Brigjen Pol Herwan Chaidir menggunting pita sebagai tanda peresmian PopWarung di Solo, Jawa Tengah, 30 November 2018.
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

Niken Sri Parawani, 60, mengaku tidak mudah baginya bersanding dengan para mantan narapidana teroris dan berdiri berdekatan dengan mereka.

Meski enam tahun telah berlalu sejak suaminya, Bripka Dwi Data Subekti, ditembak mati oleh teroris pada 17 Agustus 2012 lalu ketika berjaga di pos polisi Singosaren, Solo, Jawa Tengah, dia masih merasa canggung.

“Empat tembakan, dua di dada dua menembus tangan, beliau meninggal di tempat, saya tidak akan lupa apa yang saya rasakan saat itu,” ujar ibu tiga anak saat berbincang dengan BeritaBenar, Jumat, 30 November 2018.

Hal tersulit yang dirasakannya ketika itu adalah menyadari dia menjadi tulang punggung keluarga selepas suaminya tiada.

“Saya guru dan anak saya dua masih kuliah, yang bungsu baru saja masuk kuliah waktu itu,” ujar Niken.

Dia mengaku tidak ada pendampingan khusus baginya.

Niken berjuang menyembuhkan luka hati dan pada saat yang sama harus berjuang menafkahi keluarganya.

Menurutnya, marah ialah hal yang paling diingatnya selama satu tahun pertama setelah penembakan itu.

Ketika tahun 2017, kepolisian mengundangnya bersama para penyintas aksi terorisme se-Indonesia dan mengatakan mengenai rencana untuk mengajak mantan napi teroris dan korban bekerja sama, Niken sempat bingung antara setuju atau menolak.

“Akhirnya saya berpikir, saya kan sudah memaafkan mereka dan menerima kalau semua yang terjadi memang sudah takdir, ya sudah tidak apa-apa kerja sama,” tuturnya.

Niken menjadi satu dari 10 warga binaan SubDit Pemulihan Korban dan SubDit Bina Masyarakat Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Ia membuka warung yang diberi nama “PopWarung Niken” di rumahnya di Jaten, Karanganyar dan dia tempatkan di garasi rumahnya.

Canggung

Priyatmo alias Mamo merupakan mantan narapidana yang dihukum lima tahun penjara atas kepemilikan senjata yang diselundupkan dari Filipina ke Indonesia melalui Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur, pada 2011.

Usai bebas dari penjara, Mamo berjualan es krim keliling, yang dibuat bersama istrinya.

Memang tidak seberapa hasilnya, tetapi menurutnya itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Mamo masih bersyukur karena istrinya juga bisa membantunya mencari nafkah dengan menjadi penjahit.

“Saat saya dipenjara, dia kan bisa menjahit jadi menerima jahitan sehingga bisa untuk pemasukan selama saya tidak ada,” ujar Mamo yang memiliki tiga anak.

Menurutnya, ekonomi memang sudah seharusnya menjadi perhatian pihak berwenang ketika seorang napiter bebas.

“Alhamdulillah, warung ini sangat membantu terutama untuk napi ketika bebas,” ujar Mamo yang merasakan sulitnya bangkit dari nol saat bebas tahun 2014.

Ketika diharuskan bertemu dan bekerjasama dengan para penyintas sebagai bagian dari program warung binaan, Mamo mengaku ada rasa canggung.

Tetapi dia mencoba menepisnya dengan menghilangkan perasaan kebencian masa lalu.

“Pertama ketemu pasti canggung. Karena kalau perasaan dendam itu masih ada, pasti kalau ketemu jadi canggung, makanya harus dihilangkan,” ujar Mamo yang warungnya berlokasi di Jenawi, Karanganyar.

Meski setiap orang diberi satu warung, tapi mereka bersepuluh saling terhubung karena selain menjaga keberlanjutan setiap warung, juga masih berada sepenuhnya di bawah pengawasan BNPT.

Menggeliatkan ekonomi

BNPT melalui Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi meresmikan PopWarung secara simbolis di salah satu PopWarung yang diberikan kepada Joko Tri Harmanto atau Jack Harun, mantan napi teroris yang terlibat dalam serangan Bom Bali I (12 Oktober 2002), di Grogol, Sukoharjo, Jumat siang.

Direktur Perlindungan BNPT Brigjen Pol Herwan Chaidir menjelaskan bahwa program ini sengaja diluncurkan untuk mendampingi mantan pelaku dan juga korban.

Dia tidak ingin ada celah yang membuat para mantan napiter kembali menjadi teroris karena mengalami kesulitan setelah keluar dari penjara.

“Mereka ini kan berada di penjara bisa 5-10 tahun atau lebih, ketika bebas tentunya dia harus mulai dari nol lagi. PopWarung menjadi solusi untuk menggeliatkan teman-teman. Setelah bertahun-tahun dalam penjara, tentunya dia butuh untuk memberi makan istri dan juga anaknya,” ujar Chaidir.

Sama halnya ketika memutuskan untuk merangkul para korban aksi terorisme.

Menurut Chaidir, BNPT telah mendapatkan 1.000 lebih titik lokasi korban aksi terorisme di Indonesia.

Di antara mereka ada yang kehilangan bagian tubuh, anggota keluarga, tulang punggung keluarga dan juga kehilangan pekerjaan.

“Kita tidak mau korban-korban ini terabaikan, jangan sampai mereka sedih sendiri,” ujarnya.

PopWarung merupakan jenis usaha Mikro UKM dengan bentuk warung yang didukung teknologi digital.

Menurut Kepala Pengembangan Bisnis PT. SBR, Dianri Taufik, BNPT dan PopWarung telah bekerjasama untuk menyediakan 10 warung.

Enam di antaranya diberikan kepada mantan napi terorisme dan empat diberikan untuk korban aksi terorisme. Setiap warung disuntik modal Rp20 juta dan diberikan pendampingan.

“Di Solo ini menjadi yang pertama kali. Kami ingin membantu yang membutuhkan. Dan PopWarung ini membuka jalan usaha bagi teman-teman dan memiliki visi pemerataan profesionalisme,” ujar Taufik.

Peneliti dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Thayep Malik, melihat langkah yang diambil BNPT itu sudah tepat.

“Ketika seorang mantan napi teroris keluar dari penjara, kesulitan yang paling terasa memang soal ekonomi. Dan memang mereka tipikalnya senang dengan pekerjaan yang tidak terlalu mengikat karena biasanya mereka masih punya kegiatan keagamaan untuk diikuti,” ujar Thayep.

Tampilan selengkapnya