Follow us

Wayang Ramah Lingkungan di Malang

Ki Jumaali membuat wayang dari plastik bekas, sedangkan Mbah Kardjo membuat dari rumput. Ketika pertunjukan, mereka kerap menyampaikan pesan cinta lingkungan.
Heny Rahayu
Malang
2017-04-13
Email
Komentar
Share
Pengunjung Dewan Kesenian Malang, Jawa Timur, berlatih membuat wayang dari plastik dan rumput, Maret 2017.
Pengunjung Dewan Kesenian Malang, Jawa Timur, berlatih membuat wayang dari plastik dan rumput, Maret 2017.
Dok. Jumaali Dharmakanda

Puluhan siswa duduk bersimpuh, mengamati Ki Jumaali Dharmakanda yang memegang sebuah botol plastik bekas minuman ringan.

Jumaali memotong bagian tutup dan bawah botol, lantas dibelah menjadi dua bagian. Setelah itu, botol plastik dilapisi kertas dan dipanasi dengan setrika hingga membentuk lembaran pipih.

Lalu, plastik dibentuk berbagai karakter wayang sesuai kebutuhan. Plastik digunting sesuai pola, mulai bagian tangan, badan, kaki sampai wajah. Khusus wajah dicetak berdasarkan karakter dan bagian lain dilapisi cat kaca warna warni.

Plastik dipilih menjadi bahan baku wayang sejak lima tahun lalu. Sebelumnya, mulai 1996, Jumaali menggunakan kardus dan kulit sapi atau kerbau.

Untuk pementasan wayang legenda, dia menggunakan tokoh legenda dari dongeng masa lalu. Namun, dalang yang aktif dalam konservasi lingkungan ini, risau dengan banyak sampah botol plastik di tempat sampah, padahal sulit terurai secara alamiah.

“Plastik botol usai disetrika semakin kuat, beda dengan mika atau plastik lain. Kuat dan tahan lama melebihi kulit,” kata Jumaali kepada BeritaBenar, Rabu, 12 April 2017.

Biasanya, para perajin wayang memilih kulit sebagai bahan baku wayang purwa karena awet dan tahan lama. Sementara badan wayang dijepit dengan bambu atau rotan.

Para siswa cekatan meniru mengolah botol plastik menjadi karakter wayang yang diminati.

“Saya senang bisa belajar membuat tokoh wayang dari plastik,” ujar seorang siswa, Siska.

Jumaali memberikan kebebasan kepada mereka untuk mencari bahan baku dan membentuk karakter wayang. Para siswa pedalangan mencari di tempat sampah, sehingga mereka bisa sekaligus belajar dampak kerusakan lingkungan atas sampah plastik.

Barang bekas

Jumaali yang aktivis pusat pendidikan lingkungan hidup (PPLH) ini juga menggunakan instrumen aneka barang bekas. Berbeda dengan wayang purwa yang menggunakan cerita epos Ramayana, Mahabarata atau Panji diiringi gamelan komplit, dua sampai 20 pemusik.

Dalam pertunjukan, mantan Ketua Jurusan Teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini tak sendirian.

Dia selalu menggelar pertunjukan bersama Ki Azis Franklin. Mereka duduk berhadapan dalam satu layar. Lampu LCD Projector menyorot layar untuk memberikan efek warna-warni cahaya.

“Wayang wolak walik tercipta tak sengaja. Awalnya saya memainkan sapek untuk mengiringi pertunjukan. Saya juga dalang wayang dongeng,” jelas Azis.

Kini mereka selalu berduet dalam setiap pertujukan yang dilakukan mulai dari perkampungan pinggir kali, sekolah, hingga hotel mewah.

Alur cerita, disesuaikan kebutuhan dan tema acara yang bersumber dari legenda, dogeng, dan budaya adi luhung, seperti tokoh punakawan dalam wayang purwa ada Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Wayang wolak walik diganti dengan bapak, ibu dan anak. Selain itu dilengkapi karakter prajurit, ulama, dan aneka profesi. Mereka menyelipkan pesan moral dan ajaran agama dalam setiap pementasan.

Jumaali juga mementaskan wayang wolak walik berjudul “Naga Cacat” saat memperingati hari air yang diselenggarakan Perusahaan Umum Jasa Tirta 1, pengelola daerah aliran sungai Brantas dan Bengawan Solo.

“Ada pesan isu perubahan iklim dalam pementasan itu,” kata seniman asal Wagir, Malang, itu.

Rencananya, Jumaali akan bekerjasama dengan Polri untuk mementaskan watang wolak-walik dengan lakon “Raden Said Topeng Kembar.” Cerita bersumber dari kisah Sunan Kali Jaga yang relevan dengan kondisi saat ini.

“Raden Said merampok saudagar kaya yang kikir, untuk membantu rakyat miskin. Seperti cerita Robin Hood, tapi kisah ini lebih tua,” katanya.

170413_ID_Puppet_insert.jpg

Anak-anak menonton pagelaran wayang wolak-walik di Malang, Jawa Timur, Maret 2017. (Dok. Ki Jumaali)

Wayang rumput

Berbeda dengan Jumaali yang membuat wayang dari plastik, di tangan Samsul Subakri, rumput jadi kerajinan wayang Puspa Sarira, berasal dari bahasa Sansekerta artinya badan yang terbuat dari bunga.

Beragam rumput digunakan menjadi bahan baku wayang seperti mendong, rumput, jerami dan tangkai pohon singkong.

Di Malang, Samsul lebih akrab disapa Mbah Kardjo – yang merupakan akronim dari Konservasi Asli Rakyat di Luar Jalur Organisasi.

Wayang rumput memiliki makna dan filosofi Jawa. Saat membuat wayang, dia menceritakan  makna setiap bagian tubuh wayang. Kadang jika diiringi musik gamelan, dia sambil menyanyi tembang mijil, berupa syair kelahiran wayang.

Wayang dibuat dari tiga helai rumput sepanjang 100 sentimeter. Setelah dipotong dua bagian sama panjang, dia mengayam bagian hidung untuk bernafas sebagai pertanda kehidupan.

Karena wayang dibuat saat wawancara dengan BeritaBenar, Kardjo menamakannya “Reksa Aksara”, artinya penjaga huruf. Menurutnya, profesi jurnalis adalah penjaga huruf untuk menyampaikan kebenaran.

Sama dengan Jumaali, Kardjo juga menggunakan karakter sesuai alur cerita yang dibuatnya.

“Cerita disesuaikan dengan penonton. Bisa berupa dongeng, diselipkan pesan moral,” katanya, yang selalu melibatkan penonton saat tampil.

Dia memulai membuat wayang rumput sejak 2012. Saat itu masih sebatas hobi, lantas Kardjo mengembangkan dan memodifikasi untuk pertunjukan.

Ia juga memanfaatkan wayang rumput sebagai media pendidikan konservasi sejak aktif sebagai suporter lembaga konservasi satwa, PROFAUNA.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Agoes Edi Poetranto mengapresiasi Ki Jumaali dan Mbah Kardjo yang memanfaatkan sampah menjadi karya seni bernilai tinggi.

“Karya mereka harus dikembangkan,” ujarnya.

Tampilan selengkapnya