Follow us

Dua WNI Sandera Kelompok Abu Sayyaf Dibebaskan

Pihak berwenang mengatakan sempat terjadi baku tembak yang menewaskan seorang militan dan seorang aparat.
Staf BeritaBenar
Zamboanga, Filipina
2019-12-22
Email
Komentar
Share
Dua warga Indonesia yang menjadi sandera Abu Sayyaf berhasil dibebaskan. Maharudin bin Lunani (kedua dari kiri) dan Samiun bin Maneu (kedua dari kanan) didampingi oleh Komandan Pasukan Gabungan Sulu Mayjen Corleto Vinluan (kanan) di dalam kamp militer di Jolo, Filipina, 22 Desember 2019.
Dua warga Indonesia yang menjadi sandera Abu Sayyaf berhasil dibebaskan. Maharudin bin Lunani (kedua dari kiri) dan Samiun bin Maneu (kedua dari kanan) didampingi oleh Komandan Pasukan Gabungan Sulu Mayjen Corleto Vinluan (kanan) di dalam kamp militer di Jolo, Filipina, 22 Desember 2019.
Dok: Komando Mindanao Barat

Tentara Filipina berhasil membebaskan dua dari tiga orang warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi sandera kelompok militer Abu Sayyaf di wilayah selatan Pulau Jolo, setelah baku tembak antara pihak militer dan militan yang menewaskan seorang militan dan seorang tentara, Minggu waktu setempat, demikian menurut pihak berwenang.

Sandera ketiga, Muhammad Farhan, masih berada di tangan kelompok militan ketika pihak militer mulai mengepung. Seorang aparat tewas dan seorang lainnya terluka saat baku tembak yang terjadi di sebuah desa terpencil di wilayah Panamao, Jolo, kata pihak militer.

Para sandera yang berhasil dibebaskan adalah Maharudin bin Lunani (48) dan Samiun bin Maneu (26). Keduanya bekerja sebagai nelayan. Mereka ditangkap oleh kelompok tersebut di perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia, bulan September lalu, demikian menurut keterangan milliter.

Pihak militer sendiri menolak berkomentar terkait penculikan tersebut dan menambahkan bahwa kejadian itu bertempat di perairan internasional. Namun kepada BeritaBenar, pihak intelijen mengatakan para nelayan tersebut ditangkap oleh kelompok bajak laut lalu diserahkan ke kelompok Abu Sayyaf untuk mendapat keutungan. Pihak intelijen juga menambahkan sejumlah insiden serupa juga pernah terjadi sebelumnya.

Juru Bicara Komando Mindanao Barat (Westmincom) Mayor Arvin John Encinas mengatakan pasukan Batalyon Infanteri Marinir IV (MBLT) menyerbu kelompok Abu Sayyaf dalam kejadian itu.

Baku tembak yang memakan korban jiwa pun tak terelakkan. Unit Marinir lainnya lalu menyerang kelompok itu dan berhasil menyelamatkan para sandera.

"Kami kehilangan seorang anggota dan seorang lainnya terluka dalam kejadian itu. Aparat terus bergerak untuk menyelamatkan sandera ketiga," ujar Encinas.

Pihak aparat juga berhasil mengidentifikasi tersangka militan yang tewas, yakni Hairula Item. Aparat juga menyita sepucuk senapan serbu dan pelontar granat dari tangan tersangka.

"Kami akan terus mengejar dan menangkap para militan lewat serangkaian operasi demi menyelamatkan para sandera dan menggagalkan rencana jahat mereka," ujar Kepala Komando Mindanao Barat Letjen Cirilito Sobejana dalam keterangan resminya.

"Kami telah mengerahkan pasukan dan mensterilisasi wilayah tersebut. Kami yakin bisa menyelamatkan Farhan," tambahnya.

Sobejana menambahkan seorang informan sipil yang membantu operasi penyelamatan warga Inggris Allan Arthur Hyrons bulan lalu dan istrinya diberikan penghargaan oleh Pemerintah Provinsi Zamboanga del Sur sebesar dua juta peso atau setara 550 juta rupiah lebih, Sabtu kemarin.

Sobejana mengatakan pihaknya juga bertekad menangkapi para anggota kelompok Abu Sayyaf beserta dua tokoh pemimpinnya, Hatib Hajan Sawadjaan dan Radulan Sahiron.

"Kami terus berupaya memenuhi target yang telah ditetapkan presiden yakni menangkapi kelompok Abu Sayyaf. Salah satu caranya dengan menangkap kedua tokoh pemimpin mereka," tegasnya.

Sawadjaan yang merupakan komandan Kelompok Abu Sayyaf dan tokoh pimpin Muslim disebut-sebut sebagai tokoh pemimpin ISIS yang baru di wilayah selatan. Dia menggantikan Isnilon Hapilon yang tewas usai memimpin ratusan pejuang ISIS dalam menduduki Kota Marawi tahun 2017 lalu. Pertempuran yang berlangsung selama lima bulan di kota itu menewaskan ratusan pejuang ISIS, tentara, dan warga sipil.

Pihak militer juga mengatakan kelompok Sawadjaan diketahui bekerja sama dengan para pejuang asing dan mencari target-target baru di wilayah selatan usai jatuhnya Marawi. Salah satunya lewat aksi pengeboman gereja di Jolo bulan Januari tahun ini, dimana dua WNI terlibat bom bunuh diri yang menewaskan 23 orang.

Jeoffrey Maitem dan Mark Navales ikut berkontribusi dalam berita ini dari Cotabato City, Filipina.

Tampilan selengkapnya