WNI Yang Ditangkap di Perbatasan Turki-Suriah Adalah Janda Pejuang ISIS

Sebagian identitas dari 16 WNI yang ditangkap di perbatasan Turki-Suriah sudah terungkap.

2015.03.16
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
ID_JUSUF_KALLA_TURKEY_ISIS_700_MARCH2015.jpg Wakil Presiden Jusuf Kalla disambut oleh Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida dalam acara pertemuan bilateral UN World Conference di Sendai, Jepang tanggal 14 Maret, 2015.
AFP

Seorang perempuan dengan tujuh anaknya yang ditangkap di perbatasan Suriah, Ririn Andriani (38), dilaporkan terkait dengan pejuang the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) asal Indonesia, Achanul Huda. Anggota parlemen memperingatkan memperingatkan pemerintah untuk memantau agen pariwisata dan biro perjalanan yang mengatur perjalanan haji,  The Jakarta Globe melaporkan tanggal 15 Maret.

Kepala Polisi daerah (Polda) Jawa Timur Anas Yusuf mengatakan bahwa Ririn tidak terkait dengan Abu Jandal seperti sebelumnya dilaporkan di banyak media lokal dan internasional.

Ririn adalah janda dari Achanul Huda alias Ahmad Huda yang berasal dari Lamongan, Jawa Timur.

Achanul dilaporkan tewas ketika berjuang untuk ISIS di Irak, Portal BeritaSatu melaporkan pada tanggal 14 Maret. Namun, portal tersebut tidak memberikan keterangan rinci kapan dan di mana Achanul tewas.

Ririn ke Turki dengan kakak Achanul bernama Umi Dafa. Cerita ini menjadi lebih rumit karena ternyata Umi adalah janda dari Muhammad Hidayat (MH), tersangka teroris yang tewas di Tulungagung, Jawa Timur pada tahun 2013, The Jakarta Globe melaporkan.

Muhammad Hidayat alias Dayah terdaftar sebagai tersangka teroris yang berada dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) atas keterlibatannya dalam paramiliter di Poso, Sulawesi Tengah. Dia ditembak oleh Densus 88 ketika mencoba melarikan diri.

Menjual rumah untuk ke Turki

Pemerintah dan media sedang menganalisa motif banyaknya orang Indonesia yang bergabung ISIS.

Sebagian besar warga negara Indonesia yang ditangkap di perbatasan sudah menyiapkan perjalanan secara rinci.

Suharto, Camat di Paciran mengatakan bahwa Ririn berasal dari Banyuwangi dan telah menjual rumahnya di Paciran, Lamongan dua bulan yang lalu, Beritasatu melaporkan pada tanggal 14 Maret.

Ada dugaan kuat bahwa uang yang dipakai Ririn untuk ke Turki adalah hasil dari penjualan rumahnya.

Wakil Kapolri (Wakapolri) Badrodin Haiti mengatakan pada hari Minggu (10 Maret) bahwa Ririn dan Umi diperkirakan telah menerima bantuan dari orang lain sebelum mereka meninggalkan kota kelahirannya.

Badrodin juga menyatakan bahwa pemerintah Indonesia akan memantau setiap cara yang mungkin bagi sebagian besar Indonesia untuk bergabung IS, Jakarta Globe menyatakan.

Bergabung ISIS melalui wisata dan naik haji

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia memperingatkan pemerintah untuk memantau agen pariwisata dan biro perjalanan yang mengatur perjalanan haji.

“Supaya tidak ada lagi pihak yang menggunakan program haji hanya sebagai cara untuk mencapai Suriah dan bergabung dengan ISIS," kata Saleh Daulay dari Partai Amanat Nasional (PAN), AntaraNews melaporkan pada 15 Maret.

Dia menambahkan bahwa pemerintah harus memastikan muslim yang akan haji bisa mencapai tanah suci tapi tidak untuk tujuan lainnya.

"Untuk mencegah program wisata agar tidak disalahgunakan, sementara  mungkin harus dihentikan. Ini bisa dibuka lagi setelah situasi normal kembali," kata Daulay yang juga ketua komisi urusan luar negeri dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada AntaraNews.

Daulay mengatakan bahwa keputusan ini sangat berat, tetapi menurut dia ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah WNI yang ingin bergabung dengan ISIS.

"Ini memang sulit untuk dilakukan, tetapi ini adalah sebagai cara pencegahan. Pemerintah harus berada di barisan terdepan dalam hal mencegah pengaruh ISIS di negeri ini," tambahnya.

Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla menyatakan bahwa Indonesia dan pemerintah Turki akan bekerja sama untuk mengatasi meningkatnya jumlah WNI yang telah bergabung ISIS.

"Dalam pertemuan dengan delegasi dari Turki kami telah merundingkan cara mencegah radikalisasi," kata Kalla seperti dikutip AntaraNews pada Mar.15.

Dia juga menambahkan pemerintah Indonesia sepakat untuk membentuk sebuah organisasi Islam untuk melawan radikalisme.

"Radikalisme harus diatasi bersama-sama," tambahnya.


Oleh Staf BenarNews dengan masukan dari media lokal

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya