Follow us

Beruk, Monyet Terlatih Pemetik Kelapa

Masyarakat Pariaman bisa hidup dari hasil berjualan dan menyediakan jasa beruk pemetik kelapa.
M.Sulthan Azzam
Padang Pariaman
2017-10-30
Email
Komentar
Share

Bagi warga Sumatera Barat, monyet berekor pendek atau beruk ini, dipelihara dan dilatih untuk memetik kelapa di pohon yang memiliki ketinggian rata-rata 20 hingga 35 meter.

Dengan “pendidikan khusus”, beruk bisa memetik kelapa dengan cepat, menurunkan kelapa dari pohon sesuai permintaan tuannya, baik kelapa tua maupun muda.

“Butuh waktu enam bulan untuk melatih beruk. Bahkan, ada yang sampai setahun,” kata Fendi, pelatih beruk yang tinggal di Lubuk Ipuh Kurai Taji, Kabupaten Padang Pariaman, kepada BeritaBenar pada akhir Oktober 2017.

Fendi mencari beruk liar dengan membeli di pasar hewan di daerahnya. Harganya bervariasi, antara Rp400 ribu hingga Rp2 juta, tergantung usia dan keahlian.

Menurut Fendi, untuk menjinakkan seekor beruk hingga bisa diperintah memetik buah kelapa, bukan perkara mudah.

Setiap hari, beruk liar muda harus dikenalkan dengan pohon dan buah kelapa. Tak hanya itu, makanan hingga vitamin harus benar-benar diperhatikan, ujarnya.

Ada beberapa tahapan harus dilalui. Pertama, beruk diperkenalkan kelapa dan pohonnya. Lalu, diajari membedakan antara kelapa muda dengan buah tua.

Beruk yang sudah terlatih, dalam sehari bisa memetik sekitar 100 kelapa. Beberapa warga juga menyediakan jasa beruk untuk memetik kelapa.

Beruk yang sudah ahli bisa dijual lagi jika ada peminat, dengan harga tinggi.

“Beruk yang sudah profesional, harganya bisa mencapai Rp8 juta - Rp10 juta per ekor,” tutur Fendi.

Sering juga beruk mendapat perlakuan kasar sehingga terluka, terutama saat dijual di pasar.

Namun kata Asvery, General Manager Yayasan Kalaweit Indonesia yang berkosentrasi pada perlindungan satwa, hal itu masih dalam batas kewajaran.

“Kita tidak melihat ada yang sampai menyiksa. Hanya memberi pelajaran agar nurut. Karena inikan menyangkut keahlian si beruk membedakan mana kelapa tua dan mana yang muda,” katanya kepada BeritaBenar.

Menurut Asvery, beruk bukan termasuk jenis primata dilindungi, sehingga diperjualbelikan atau dipekerjakan. Dia berharap agar warga menjaga kesehatan beruk.

Tomi Tanjibo, seorang warga mengaku melihat tindakan kasar yang dilakukan penjual maupun pelatih anak monyet.

“Terpisah dari induk dan koloninya sudah merupakan bentuk penyiksaan terhadap hewan, apalagi sampai bertindak kekerasan yang menyebabkan anak monyet terluka dan sakit,” katanya.

Namun, Tomi tak menampik jika usaha penjualan dan jasa pemakaian beruk di Pariaman membawa dampak positif bagi masyarakat.

“Banyak yang mampu menghidupi keluarga bahkan membiayai pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi,” katanya.

Tampilan selengkapnya