Aktivitas tambang bebatuan berdampak buruk di Sulawesi Tengah

Industri pertambangan di Palu dan Donggala tidak disertai dengan tata laksana lingkungan yang baik. Sepanjang garis pantai Teluk Palu dapat ditemui bukit-bukit yang terpangkas sebagian.
Taufan Bustan
2023.07.03
Sulawesi Tengah
Pemandangan perahu nelayan berganti jadi tongkang

Foto udara memperlihatkan tiga unit kapal tongkang parkir di dermaga yang direklamasi menggunakan material tambang bebatuan galian C di Jalan Trans Palu - Donggala di Kelurahan Loli Induk, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu 14 Juni 2023. Meningkatnya kegiatan pertambangan di wilayah ini telah membuat garis pantai yang indah jadi menghilang. (Taufan Bustan / BenarNews)

Mesin pemecah batu

Dua unit mesin "stone crusher" atau pemecah batu berada di bekas lokasi tambang bebatuan (galian C) di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu 11 Juni 2023. Pemerintah setempat mencatat, sedikitnya delapan unit stone crusher beserta belasan truk dibiarkan terbengkalai oleh beberapa perusahaan izin usaha mereka dicabut. (Taufan Bustan / BenarNews)

Bukit dipapas hingga gundul

Perbukitan yang awalnya ditumbuhi tanaman hijau menjadi gundul akibat aktivitas tambang bebatuan di Kelurahan Watusampau, Kecamatan Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu, 11 Juni 2023. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulawesi Tengah menilai penggundulan ini meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor ketika musim hujan berkepanjangan di wilayah tersebut. Warga yang bermukim di lingkar tambang diimbau untuk selalu waspada. (Taufan Bustan / BenarNews)

Debu tambang melekat di kendaraan

Warga menutup hidung dan mulut saat membersihkan debu yang melekat di sepeda motor di halaman rumah Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu 7 Juni 2023. Debu dari aktivitas tambang bebatuan (galian C) di Kelurahan Buluri tidak hanya melekat di rumah warga tapi juga kendaraan mereka. (Taufan Bustan / BenarNews)

Melintasi kabut debu

Sejumlah pengendara sepeda motor dan mobil menerobos debu yang berterbangan ke udara saat melintas di Jalan Trans Sulawesi Palu - Donggala di Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu 7 Juni 2023. Debu ini adalah dampak penambangan bebatuan (galian C) sepanjang Jalan Trans Sulawesi mulai dari Kelurahan Buluri, Kelurahan Watusampu, Palu hingga masuk wilayah Kabupaten Donggala. (Taufan Bustan / BenarNews)

Menghirup debu kerikil sehari-hari

Satu truk bermuatan kerikil melintas di dekat ibu dan tiga orang anaknya yang bermain di gundukan pasir wilayah tambang bebatuan (galian C) Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu 11 Juni 2023. Banyak warga di sini, khususnya anak-anak, terkena infeksi saluran pernafasan akut. (Taufan Bustan / BenarNews)

Melintasi kabut debu

Debu beterbangan dari limbah pecahan pasir, batu, dan kerikil yang tidak ditangani dengan baik. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Palu menyebutkan areal pertambangan yang dikelola pelbagai perusahaan di wilayah Kelurahan Buluri dan Watusampu, tidak dilengkapi alat pengukur kualitas dan kuantitas udara sehingga udara di kawasan tersebut mengancam kesehatan warga. (Taufan Bustan / BenarNews)

Menghirup debu kerikil sehari-hari

Warga berjalan sambil menutup hidungnya menggunakan jilbab agar tidak menghirup debu saat melintas di jalur keluar dan masuk truk pegangkut pasir, batu, dan kerikil di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu 11 Juni 2023. Sejak sepuluh tahun lalu, warga tidak punya pilihan lain kecuali menghirup debu akibat aktivitas tambang bebatuan (Galian C) secara sukarela. Tahun 2006, tercatat 600 orang terkena infeksi pernapasan di sana. (Taufan Bustan / BenarNews)

Aktivitas tambang bebatuan atau galian C – yang merupakan usaha penambangan berupa tambang tanah, pasir, kerikil, marmer, kaolin, dan granit – semakin menjamur di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah menyusul ditetapkannya Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, sebagai lokasi ibu kota Nusantara.

Lokasi geografis Kalimantan Timur yang berdekatan dengan Palu dan Donggala memungkinkan suplai bahan bangunan seperti pasir, batu, dan kerikil (sirtukil) terbaik dari dua wilayah ini. 

Tetapi industri pertambangan di Palu dan Donggala tidak disertai dengan tata laksana lingkungan yang baik. Perusahaan tambang bebatuan terkesan mengabaikan dampak berbahaya dari kegiatan mereka. Sepanjang garis pantai Teluk Palu dapat ditemui bukit-bukit yang terpangkas sebagian. 

Sementara, di tepian Teluk Palu dermaga-dermaga berdiri kokoh, menjadi sandaran kapal-kapal tongkang pengangkut hasil tambang. 

Keberadaan dermaga pribadi milik perusahaan pengelola tambang itu menggusur keberadaan lokasi penangkapan ikan hingga budidaya rumput laut, salah satu potensi sumber daya alam (SDA) kelautan di Palu dan Donggala.

Kerusakan lingkungan di sekitar tambang galian C di Palu dan Donggala menuai kasus penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

Paling tinggi penderitanya yang tinggal di daerah sekitar tambang. ISPA merupakan buah dari polusi udara akibat kegiatan pertambangan. 

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulawesi Tengah, mencatat sepanjang pesisir Teluk Palu mulai dari Palu hingga Donggala, tidak kurang 27 perusahaan tambang galian C yang beroperasi, 10 di antaranya berada dalam kawasan administratif Palu, sedangkan 17 lainnya masuk kawasan administratif Donggala. 

Di sudut lainnya yakni di Kecamatan Labuan, Donggala terdapat juga kurang lebih 17 perusahaan tambang sirtukil yang terus mengeruk sepanjang sungai Labuan.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.