Jamasan Pusaka Candi Songgoriti

Tradisi mencuci keris sebagai perlambang syukur.
Yovinus Guntur
2018.09.26
Surabaya
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Pusaka1_1000.jpg

Keris-keris yang akan dijamas dikeluarkan dari "rumah"nya dan dijejer sebelum ritual digelar. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)

Pusaka2.jpg

Prosesi jamasan pusaka dimulai yang ditandai dengan memandikan satu-persatu keris. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)

Pusaka3.jpg

Prosesi jamasan pusaka dimulai yang ditandai dengan memandikan satu-persatu keris. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)

Pusaka4.jpg

Seorang peserta jamasan serius membersihkan pusaka miliknya dengan perasan jeruk nipis agar tetap awet dan tidak berkarat. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)

Pusaka5.jpg

Prosesi jamasan dilanjutkan dengan menyiram air bunga ke keris. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)

Pusaka8.jpg

Suasana prosesi jamasan pusaka di Candi Songgoriti, Kota Batu, Jawa Timur. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)

Puluhan orang berpakaian serba hitam duduk bersila di area Candi Songgoriti, yang terletak di Desa Songgoriti, Kecamatan Songgokerto, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa, 25 September 2018.

Beberapa di antaranya serius mencuci keris dengan warangan (batu khusus), membersihkannya memakai jeruk nipis dan membilasnya dengan air bunga.

Satu dua orang bersila di depan candi. Mereka berdoa, melafalkan permohonan pribadi setelah sebelumnya menyalakan dupa dan menaruh sesaji.

Pendiri komunitas Sanggar Braja Kota Batu, Agus Susanto, mengatakan mereka melakukan jamasan pusaka. Jamasan berarti ucapan syukur atas apa yang dimiliki manusia.

“Sebagai orang Jawa, kita tidak bisa lepas dari uri-uri (melestarikan) budaya termasuk keris yang tidak bisa lepas dari mitologi orang Jawa,” ujarnya.

Total ada 99 pusaka yang dijamas terdiri dari, tombak, keris, dan senjata tradisional lain.

Jumlah pusaka yang dijamas sengaja dibatasi, karena hanya sebagai simbolis untuk penjamasan agung yang rencananya baru dilakukan tahun depan.

Pusaka yang dijamas pun tidak semuanya beryoni atau bertuah, karena pusaka yang seperti itu biasanya akan dijamas secara khusus untuk kemudian ditempatkan tersendiri.

“Jamasan ini memang hanya simbolis. Dalam artian dari keris yang tingkatannya dua, tiga, dan seterusnya,” terang pria berusia 42 tahun itu.

Ada beberapa tahapan harus dilalui dalam jamasan pusaka ini. Pertama adalah menggelar kenduri (tumpeng), sebagai pembuka atau izin kepada penguasa gaib di candi itu.

Setelah prosesi penjamasan, langkah selanjutnya adalah ritual sidikoro, atau memberi minyak pada pusaka, sebagai tanda penghormatan. Barang pusaka itu pun menjadi harum dan terhindar dari korosi atau karat.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.