Sentuhan Tradisi Kalimantan yang Bernilai Ekonomis

Pengrajin dimotivasi menanam bahan baku di sekitar rumah agar tidak terus-menerus mengambil dari hutan.
Severianus Endi
2017.08.11
Pontianak
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Foto01.jpg

Tumbik menjalin bilah resam dan rotan menjadi sebuah gelang. Perlu waktu sejam untuk menghasilkan satu gelang yang dijual seharga Rp25 ribu. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Foto02.jpg

Bahan dari alam seperti bambu, dijadikan aksesoris anyaman untuk memperindah tas wanita. Sebuah tas seperti ini dijual seharga Rp300 ribu. (Severianus Endi/BeritaBenar

Foto03.jpg

Bilah-bilah halus dari serutan bambu, resam, dan rotan yang menjadi bahan pembuatan gelang. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Foto04.jpg

Cincin dan gelang dibuat dari anyaman yang dijalin dengan bahan serutan bambu, resam dan rotan. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Foto05.jpg

Seorang perempuan sedang memperhatikan barang-barang yang terbuat dari rotan, bambu, dan pandan hutan. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Foto06.jpg

Berbagai model tas wanita yang dibuat dari perupuk atau pandan hutan, dipadu dengan aneka pita dan aksesoris menjadi alternatif pengganti produksi modern. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Foto08.jpg

Cover buku tulis dari pandan hutan yang dijalin seperti anyaman tikar. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Foto09.jpg

Krispinus memeriksa kehalusan aksesoris yang dihasilkan petani binaannya, untuk memastikan produk rumahan itu memenuhi standar. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Foto10.jpg

Tumbik (kanan) mengukur pergelangan kaki seorang remaja putri yang memesan gelang. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Jemari Tumbik (19) lincah berpadu dengan kerumitan dan ketelitian menjalin bilah-bilah halus, membentuk lingkaran bermotif. Sebagian pengunjung pameran budaya di Rumah Radakng—replika rumah betang Dayak di Pontianak— mencermati kesibukan gadis asal pedalaman Kalimantan Barat, akhir Juli lalu.

Mengira ukuran pergelangan tangan berdiameter sekitar 7 cm dengan bilah bambu tipis 1 cm, melapisinya dengan jalinan bilah resam (semacam pakis) dipadu bilah halus rotan, dianyam menyilang membentuk motif. Dalam satu jam, jadilah gelang rotan mungil dan indah.

Gadis dari Desa Banua Tengah, Kabupaten Kapuas Hulu itu, adalah satu dari banyak perempuan yang menggunakan bahan-bahan dari alam untuk membuat berbagai aksesoris, souvenir, maupun perabot rumah tangga.

“Saya belajar dari keseharian ibu-ibu dan mencoba sendiri. Bahan-bahannya ditemukan di hutan sekitar rumah,” tutur Tumbik kepada BeritaBenar.

Ronny Christianto, Manajer Kantor Wilayah Yayasan Kehati, menyebut bahwa pihaknya bermitra dengan tujuh lembaga lokal, mendampingi para pengrajin lima desa di Kapuas Hulu, memberi berbagai pelatihan dan membantu pemasaran melalui jaringan mereka.

“Disebut produk hijau karena pengrajin tidak mengambil bahan berlebihan dari alam. Regenerasi bahan cepat jika ditanam. Seperti tumbuhan resam sebenarnya tumbuhan liar yang tidak berharga, tetapi menjadi bernilai jika dijadikan souvenir,” katanya.

Sejumlah LSM konsen mendampingi masyarakat menciptakan alternatif pendapatan di luar rutinitas harian. Aktivis Yayasan Dian Tama Pontianak, Alfeus Krispinus, menyatakan bahwa 50-an petani tiga desa di pedalaman Kapuas Hulu, telah disentuh program ini.

Sebagai contoh, daun perupuk (semacam pandan hutan) lebih populer sebagai bahan tikar, kini dikembangkan ke produk-produk seperti tas dan  sampul buku.

“Mereka dimotivasi menanam bahan baku di sekitar rumah, supaya tidak terus-terusan mengambil dari alam, sehingga usaha ini bisa berkelanjutan,” tutur Krispinus.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.