Follow us

Seblang, Tarian Syukur untuk Leluhur

Untuk menari seblang, penari yang merupakan seorang gadis pilihan harus kerasukan roh leluhur.
Yovinus Guntur
Banyuwangi
2017-07-14
Email
Komentar
Share

Masyarakat Osing di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar ritual seblang setiap bulan Syawal. Tujuan ritual sepekan yang tahun ini digelar dari Jumat, 30 Juni 2017 hingga Kamis, 6 Juli 2017, untuk mengucap syukur kepada leluhur atas keselamatan desa.

Tradisi yang telah berlangsung sejak 1930 bukan ritual sembarangan, karena penari seblang bukanlah penari biasa. Yang bisa membawakan tarian ini hanya gadis pilihan yang memiliki “darah” seblang dari para penari sebelumnya.

Penari seblang juga hanya bisa maksimal tiga kali menari dan harus digantikan penari lain berdasarkan petunjuk dari leluhur desa.

Untuk menari seblang, seorang penari harus kerasukan roh leluhur. Prosesi masuknya roh diiringi 28 lantunan gending, yang diawali Gending Lukinto.

“Gending ini dipercaya masyarakat Olehsari sebagai pemanggil arwah atau sebuah kekuatan halus untuk datang ke ritual seblang,” ujar Ketua Adat Seblang Desa Olehsari, Ansori, kepada BeritaBenar.

Selepas Gending Lukinto, lantunan gending-gending Osing dibawa secara berurutan, mulai dari Gending Liliro Kantun, Cengkir Gadhing, Padha Nonton Pupuse, Padha Nonton Pundak Sempal, Kembang Menur, Kembang Gadung, Kembang Pepe, dan Kembang Dermo.

Saat gending Kembang Dermo ini dibawakan, penari Seblang membawa tampah yang berisi bunga yang bernama Bunga Dermo.

Di hari terakhir, penari seblang akan diarak keliling desa. Arak-arakan ini disebut ider bumi (mengitari bumi). Penari seblang berjalan beriringan bersama pawang, sinden, dan seluruh perangkat menuju empat penjuru.

Penjuru itu adalah Situs Mbah Ketut yang dianggap awal berdirinya Desa Olehsari, lahan Petahunan, Sumber Tengah, dan berakhir di Balai Desa. Prosesi mengelilingi empat penjuru menandakan berakhirnya ritual seblang.

Tampilan selengkapnya