Follow us

Setahun Bencana, Palu Masih Menyisakan Luka

Setahun setelah bencana yang merenggut lebih dari 4.500 nyawa itu menerjang, jurnalis BeritaBenar mengabadikan keadaan di lokasi yang sama.
Keisyah Aprilia
Palu
2019-09-25
Email
Komentar
Share

Setahun sudah gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang menerjang Palu, Donggala dan Sigi di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. Pemulihan pascabencana sudah mulai kelihatan, namun di sejumlah lokasi terdampak bencana masih menyisakan luka.

Di Kelurahan Lere, Palu ini, misalnya. Rumah warga yang hancur diterjang tsunami belum dibangun kembali.

Sebagian warga menandai lokasi bekas rumahnya dengan memasang papan bertuliskan nama. Dengan begitu mereka mudah mencari kembali lokasinya kalau ingin mendirikan rumah lagi.

Fasilitas umum seperti jalan dan jembatan di desa itu pun belum dibangun.

Selain itu, masjid terapung yang menjadi salah satu ikon Kota Palu di Kelurahan Lere juga belum diperbaiki.

Sedangkan di posko pengungsian Masjid Agung, sudah banyak tenda kosong ditinggal pengungsi karena mereka pindah ke hunian sementara dan hunian tetap.

Beralih ke Kelurahan Balaroa, di lokasi likuifaksi kerusakan masih terlihat. Tidak ada perbaikan rumah yang dilakukan wargam hanya puing-puing ditumbuhi semak belukar.

Kini warga bisa melintas menggunakan sepeda motor di lokasi tanah bergerak tersebut.

Pemerintah Kota Palu beralasan, Kelurahan Lere dan Balaroa masuk dalam zona rawan bencana, sehingga kedua kelurahan itu tidak bisa dibangun lagi dan warga yang selamat akan direlokasi ke tempat lain.

Sementara itu, kuburan massal korban gempa dan tsunami di Kelurahan Poboya tertata lebih teratur setelah pihak keluarga memasang batu nisan di kuburan orang-orang yang mereka cintai.

Setiap sore, lokasi ini ramai dikunjungi. Selain untuk mendoakan sanak keluarga yang dimakamkan di situ, juga ada warga sengaja datang untuk melihat kuburan massal korban bencana setahun lalu.

Dalam kenangana pahit duka itu, para penyintas tetap bersyukur.

“Kalau diingat-ingat lagi, pasti sedih. Cuma mau diapakan, sudah begitu jalan yang dikasih Allah Subhanahu wa Ta'ala,” tutur Nurlina (60) yang menempati tenda pengungsian di Balaroa.

Suami, menantu dan dua cucunya termasuk dari 4.500 orang lebih yang tewas dalam bencana itu.

“Sekarang anak saya kerja di salah satu toko campuran di pasar. Nanti kalau ada modal dan pindah di rumah, kami mau buka kedai. Biar kecil yang penting punya sendiri.”

Dalam bidikan lensa, jurnalis BeritaBenar mengabadian keadaan di sejumlah lokasi yang sama setahun setelah bencana itu.

Tampilan selengkapnya