Setahun Bencana, Palu Masih Menyisakan Luka

Setahun setelah bencana yang merenggut lebih dari 4.500 nyawa itu menerjang, jurnalis BeritaBenar mengabadikan keadaan di lokasi yang sama.
Keisyah Aprilia
2019.09.25
Palu
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
190925-ID-palu-ss-1.JPG

Tim gabungan SAR melakukan pencarian korban yang tertimbun reruntuhan bangunan di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 9 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-2.JPG

Seorang warga berdiri di bekas reruntuhan bangunan di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 15 September 2019. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-3.jpg

Anak-anak memilih baju bekas di Posko Pengungsian Masjid Agung Darussalam Palu, Sulawesi Tengah, 10 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-4.JPG

Sejumlah warga berada di lokasi bekas Posko Pengungsian Masjid Agung Darussalam Palu, Sulawesi Tengah, 17 September 2019, yang sudah menjadi taman bermain anak-anak. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-5.JPG

Personel TNI menguburkan para korban gempa dan tsunami secara massal di Perbukitan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Palu, Sulawesi Tengah, 5 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-6.jpg

Seorang warga berada di lokasi kuburan massal korban gempa dan tsunami yang telah dipasangi batu nisan di Perbukitan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Palu, Sulawesi Tengah, 16 September 2019. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-7.jpg

Kondisi pemukiman warga yang rata tanah usai diterjang tsunami di pesisir Teluk Palu, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, 1 Oktober 2018. (Yayank Stiv/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-8.JPG

Pemukiman warga belum dibangun lagi setahun pasca-bencana di pesisir Teluk Palu, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, 18 September 2019. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-9.jpg

Masjid Apung Palu di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, masih digenangi air laut, 1 Oktober 2018. (Yayank Stiv/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-10.jpg

Masjid Apung Palu belum diperbaiki setahun setelah diterjang tsunami di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, 17 September 2019. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-11.JPG

Warga mengumpulkan barang yang bisa diselamatkan dari reruntuhan rumah mereka di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 11 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

190925-ID-palu-ss-12.JPG

Seorang warga berjalan di depan rumah yang masih hancur akibat dihantam gempa dan likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 15 September 2019. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

Setahun sudah gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang menerjang Palu, Donggala dan Sigi di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. Pemulihan pascabencana sudah mulai kelihatan, namun di sejumlah lokasi terdampak bencana masih menyisakan luka.

Di Kelurahan Lere, Palu ini, misalnya. Rumah warga yang hancur diterjang tsunami belum dibangun kembali.

Sebagian warga menandai lokasi bekas rumahnya dengan memasang papan bertuliskan nama. Dengan begitu mereka mudah mencari kembali lokasinya kalau ingin mendirikan rumah lagi.

Fasilitas umum seperti jalan dan jembatan di desa itu pun belum dibangun.

Selain itu, masjid terapung yang menjadi salah satu ikon Kota Palu di Kelurahan Lere juga belum diperbaiki.

Sedangkan di posko pengungsian Masjid Agung, sudah banyak tenda kosong ditinggal pengungsi karena mereka pindah ke hunian sementara dan hunian tetap.

Beralih ke Kelurahan Balaroa, di lokasi likuifaksi kerusakan masih terlihat. Tidak ada perbaikan rumah yang dilakukan wargam hanya puing-puing ditumbuhi semak belukar.

Kini warga bisa melintas menggunakan sepeda motor di lokasi tanah bergerak tersebut.

Pemerintah Kota Palu beralasan, Kelurahan Lere dan Balaroa masuk dalam zona rawan bencana, sehingga kedua kelurahan itu tidak bisa dibangun lagi dan warga yang selamat akan direlokasi ke tempat lain.

Sementara itu, kuburan massal korban gempa dan tsunami di Kelurahan Poboya tertata lebih teratur setelah pihak keluarga memasang batu nisan di kuburan orang-orang yang mereka cintai.

Setiap sore, lokasi ini ramai dikunjungi. Selain untuk mendoakan sanak keluarga yang dimakamkan di situ, juga ada warga sengaja datang untuk melihat kuburan massal korban bencana setahun lalu.

Dalam kenangana pahit duka itu, para penyintas tetap bersyukur.

“Kalau diingat-ingat lagi, pasti sedih. Cuma mau diapakan, sudah begitu jalan yang dikasih Allah Subhanahu wa Ta'ala,” tutur Nurlina (60) yang menempati tenda pengungsian di Balaroa.

Suami, menantu dan dua cucunya termasuk dari 4.500 orang lebih yang tewas dalam bencana itu.

“Sekarang anak saya kerja di salah satu toko campuran di pasar. Nanti kalau ada modal dan pindah di rumah, kami mau buka kedai. Biar kecil yang penting punya sendiri.”

Dalam bidikan lensa, jurnalis BeritaBenar mengabadian keadaan di sejumlah lokasi yang sama setahun setelah bencana itu.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya