Jamu Gendong, Diburu Saat Virus Corona Mewabah

Setiap hari penjual jamu gendong bisa berkeliling sejauh10 km membawa bakul jamu seberat 17 kg.
Afriadi Hikmal
2020.03.13
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
JamuGendong_1.jpg

Memotong temu lawak di dapur, Jakarta, 11 Maret 2020. Untuk mempercepat proses memasak jamu, para penjual mempersiapkan bahan jamu di malam sebelum berjualan. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_4.jpg

Penjual jamu gendong memakai angkin, Jakarta, 12 Maret 2020. Penjual jamu gendong selalu mengenakan kain untuk menjajakan dagangannya. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_5.jpg

Mengaduk godokan jamu, Jakarta, 12 Maret 2020. Penjual jamu gendong selalu memasak jamunya beberapa saat sebelum berkeliling agar saat diminum masih hangat. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_6.jpg

Ibu Handayani, 51 tahun, mencium tangan suaminya, Suhardi, 54 tahun, saat akan berangkat menjajakan jamu di kawasan Petukangan Selatan, Jakarta, 12 Maret 2020. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_7.jpg

Ibu Yani, 36 tahun, meminum jamu gendong, Jakarta, 12 Maret 2020. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_9.jpg

Jamu, Bu, jamu!” Ibu Handayani menjajakan jamunya, Jakarta, 12 Maret 2020. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_10.jpg

Indah, 34, membeli jamu gendong di depan rumahnya, Jakarta, 12 Maret 2020. Pelanggan jamu gendong selalu menunggu penjaja lewat pada waktunya. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_11.jpg

Jamu beras kencur dituangkan ke dalam gelas pembeli, Jakarta, 12 Maret 2020. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

JamuGendong_13.jpg

Keringat di dahi Ibu Handayani saat mengangkat bakul jamu untuk digendong, Jakarta, 12 Maret 2020. Satu bakul berisi jamu memiliki berat 17 kilogram. (Afriadi Hikmal/BenarNews)

Merebaknya virus corona membuat penjual jamu gendong yang langka, ditunggu kembali oleh masyarakat yang percaya bahwa meminum ramuan herbal akan meningkatkan daya tahan tubuh mereka dari virus mematikan itu.

Tidak hanya masyarakat awam, dikutip dari laman resmi Sekretariat Kabinet, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengaku setiap hari meminum jamu empon-empon yang terdiri dari temulawak, jahe, serai, dan kunyit. “Sekarang karena ada (virus) corona, saya minumnya pagi, siang, malam,” kata Jokowi dikutip dalam laman tersebut.

Belum ada bukti ilmiah tentang bagaimana jamu bisa mencegah virus pandemik yang hingga kini belum ditemukan vaksin untuk pencegahannya. Namun yang pasti penjual jamu bisa menjual 200 gelas dengan mendapat penghasilan Rp1 juta per hari, tergantung lokasi dimana mereka berjualan.

Seorang penjual jamu gendong, Ibu Handayani, 51 tahun, asal Karanganyar berjualan di Jakarta sejak 25 tahun lalu. Ilmu meracik jamu didapatnya dari keluarga yang turun-temurun berjualan jamu.

Mahalnya bahan dasar di pasar Jakarta disiasati Ibu Handayani dengan menanam di kampung halaman. Setiap dua minggu sekali suaminya, Suhardi 54 tahun, datang ke Jakarta membawa bahan dasar jamu dalam karung. Itu sebabnya harga jual segelas jamu gendong bisa lebih murah, rata-rata Rp 5000 per gelas.

Penjual jamu gendong selalu mempersiapkan bahan dasar pada malam sebelum berjualan. Beberapa saat sebelum berjualan baru memasak/menggodok jamu agar suhu hangat-hangat kuku ketika sampai di pembeli.

Setiap hari seorang penjual jamu gendong berkeliling dari kampung ke kampung dengan menggendong bakul jamu seberat 17 kilogram sejauh kurang lebih 10 kilometer.

Ibu Yani, 36 tahun, seorang pelanggan minuman tradisional itu, mengaku minum jamu gendong sejak usia 5 tahun. "Rasanya badan enak dan saya jarang sakit," katanya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya