Follow us

2 Tahun Pasca Gempa dan Tsunami, Palu Bangkit

Warga optimis walaupun harus banting setir untuk tetap hidup.
Keisyah Aprilia
Palu
2020-09-28
Email
Komentar
Share

Dua tahun setelah gempa, tsunami dan likuifaksi memporakporandakan Palu dan sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah, kehidupan di kota tersebut kini telah kembali normal.

Walaupun sejumlah puing bangunan masih terlihat di beberapa lokasi menjadi perekam dahsyatnya bencana 28 September 2018 yang merenggut 4000 lebih korban jiwa itu, tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda darurat.

Mereka sudah menempati hunian sementara dan akan pindah ke hunian tetap tahun depan.

“Namun hunian tetap hanya diperuntukkan untuk warga yang kehilangan rumah. Dan ada ribuan unit yang tengah berjalan pembangunannya. Insya Allah, 2021 semua sudah rampung dan warga yang dari hunian sementara bisa pindah kesana,” kata Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Longki Djanggola.

Untuk mengantisipasi bencana alam khususnya tsunami di kemudian hari, ibu kota Sulteng tersebut sudah menyiapkan diri dengan membangun tanggul anti-tsunami di sepanjang pesisir teluk Palu.

“Pembangunan tanggul ini membuktikan kesiapsiagaan Palu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya untuk mencegah terjadinya tsunami,” kata Wali Kota Palu Hidayat kepada BenarNews, 27 September 2020.

Sementara itu warga telah kembali memutar roda perekonomian, meski banyak yang harus banting setir. Kehilangan dahsyat dua tahun lalu dan pandemi COVID-19 yang kini melanda tidak menghapus optimisme mereka.

Seperti diakui Abdul Manaf yang kini beralih sebagai penjual siomay, setelah setahun lebih berjuang di bawah tenda darurat untuk mendapat pekerjaan.

“Sekarang perekonomian sudah cukup baik. Paling tidak untuk kebutuhan keluarga ada,” terangnya kepada BenarNews di Palu, 27 September 2020.

“Dulu saya nelayan yang hanya mengandalkan perahu dan alat tangkap seadanya. Karena semua hilang ditelan tsunami dan tidak ada turun bantuan saya akhirnya tidak punya pekerjaan,” ujarnya

“Inilah usaha saya sekarang. Memang hanya jualan siomay dan pentol goreng keliling. Namun, sudah cukuplah hasilnya untuk kebutuhan keluarga, anak sekolah, dan tabungan.”

Tak ubahnya Manaf, seorang warga Kelurahan Bayaoge, Kecamatan Tatanga, Andri Kadir (45), mengaku sudah bisa kembali bertahan hidup meski memulainya dengan pekerjaan baru sebagai petani.

Sebelum bencana, Kadir adalah tukang ojek pangkalan yang memiliki langganan tetap. Dari hasil ojek itu, ia sudah bisa menghidupi satu istri, dan dua orang anak yang masing-masing sekolah di tingkat dasar.

Namun, takdir bicara lain. Sepeda motor yang menjadi tumpuan Kadir untuk mencari nafkah hilang ditelan bumi saat terjadi likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Ulujadi.

“Kami bersyukur karena masih bisa hidup. Barang yang hilang itu bisa dicari lagi,” ungkapnya.

Selamat dari kematian, Kadir bersama keluarga bangkit dengan memanfaatkan lahan milik kerabatnya di Kelurahan Bayaoge.

Di sana, ia menanam cabai merah keriting dengan modal Rp500 ribu. Dari untung kecil yang terus diputar untuk modal, Kadir kini memiliki lahan cabai seluas satu hectare. “Hasilnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga,” ucapnya, penuh syukur.

Tampilan selengkapnya