Mengenal Tau Taa Wana

Keisyah Aprilia
2016.05.20
Palu
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
1.jpg

Menghayutkan kayu di Sungai Bongka untuk bahan rumah. Sungai ini menjadi akses masuk ke sejumlah Lipu Suku Wana. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

2.jpg

Rumah Tau Taa Wana di Lipu Viautiro, Desa Taronggo, Kecamatan Bungku Utara, Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

3.jpg

Indo (Mama) Laku memainkan suling bambu. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

4.jpg

Warga Tau Taa Wana melintas di ladang padi yang kering. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

5.jpg

Anak-anak Tau Taa Wana bermain kadende di depan rumah mereka. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

6.jpg

Indo (Mama) Imel menapis beras hasil panen. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

7.jpg

Apa (Ayah) Hugo memperlihatkan mata sumpit sebelum berangkat berburu ke hutan. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

8.jpg

Seorang anak Tau Taa Wana sedang latihan menyumpit. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

9.jpg

Seorang ibu muda menggendong anaknya yang kelima. Keisyah Aprilia/BeritaBenar

10.jpg

Seorang bocah laki-laki Tau Taa Wana memakai toru di kepalanya. Keisyah Aprilia/Berita Benar

Suku Wana, sering disebut Tau Taa Wana atau orang Taa, hidup mendiami wilayah hutan di pegunungan Tokala, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Nenek moyang mereka berasal dari sekitar Teluk Bone. Wana termasuk suku tertua di Sulawesi dan diyakini sebagai salah satu suku pertama yang menghuni pulau itu sejak zaman Mezolithicum, 8.000 tahun lalu.

Hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut Lipu yang terdiri dari beberapa keluarga dan rata-rata memiliki hubungan keturunan langsung, mereka hidup berladang.

Sistem berladang mereka berpindah dalam rotasi, yang dalam sekian tahun membawa mereka kembali ke lokasi yang pernah dibuka sebelumnya, sehingga praktis hampir tidak ada lagi pembukaan ladang baru.

Seperti namanya, Wana, yang berarti hutan, mereka sangat tergantung pada hutan dan kekayaan alam yang ada di dalamnya. Namun kehidupan mereka terancam karena hutan yang mereka diami, oleh pemerintah dijadikan sebagai wilayah konsesi.

Sementara proyek konsesi cepat menghampiri mereka, tidak demikian dengan perhatian atas kesehatan ataupun pendidikan bagi mereka. Rumah-rumah sederhana mereka tanpa sanitasi, tidak ada jamban, dan sampah berserakan.

Kurangnya akses pada pendidikan inipun berdampak pada salah satunya, kurangnya pengetahun mereka tentang keluarga berencana. Angka kelahiran suku yang kadang disebut Manusia Cagar ini - karena wilayah mereka dijadikan sebagai kawasan cagar alam-  sangat tinggi. Seorang perempuan, yang bahkan belum berumur tiga puluh tahun, bisa memiliki lima hingga tujuh orang anak.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya