Follow us

Cara Agar Asia Mampu Menangkal Ancaman ISIS

Opini oleh Rohan Gunaratna
2016-03-18
Email
Komentar
Share
Polisi mengambil posisi di balik kendaraan ketika tengah mengejar tersangka teroris saat serangan di Jakarta, 14 Januari 2016 silam.
Polisi mengambil posisi di balik kendaraan ketika tengah mengejar tersangka teroris saat serangan di Jakarta, 14 Januari 2016 silam.
AFP

Negara-negara di Asia dan rekanan mereka saat ini harus mengerahkan segala upaya dalam merespon ancaman ISIS yang telah mengklaim serangan 14 Januari lalu di Jakarta sebagai salah satu aksi mereka.

Upaya ini harus menjadi fokus Asia mengingat ekspansi ISIS dan pengaruhnya di kawasan ini melalui sel dan jaringan lokal mereka cukup cepat, yang diperkirakan mampu mengacaukan keamanan dan stabilitas Asia di abad ke-21 ini. Prioritas utama Asia dan dunia saat ini yakni melemahkan ISIS dari berbagai sisi.

ISIS saat ini menjadi ancaman multidimensi melalui operasi-operasi inti mereka di Suriah dan Irak, cabang-cabang mereka di berbagai penjuru di dunia, dan keberadaan mereka di dunia maya. Para pejuang asing dan pendukung kelompok ini dari berbagai kawasan Asia-Pasifik cukup aktif dalam bidangnya masing-masing.

Untuk menangkal ancaman ini, pasukan-pasukan militer, pihak penegak hukum dan badan-badan keamanan nasional harus meningkatkan kemampuan mereka. Upaya-upaya terintegrasi ini termasuk memperluas unit-unit taktis elit pencegahan terorisme, menambah jasa-jasa keamanan nasional, membangun kerangka hukum yang kuat dan meningkatkan jumlah unit khusus yang menangani serangan di dunia maya.

Perkembangan Asia-Pasifik di abad ke-21 yang cukup pesat menuntut pemerintah negara-negara di kawasan ini untuk berbuat lebih dan bekerja sama mengamankan kawasan ini, termasuk meningkatkan upaya mereka dalam pertarungan internasional melemahkan ISIS dari pusatnya.

Beberapa negara di kawasan ini telah bergabung dengan pasukan koalisi anti ISIS. Namun akan lebih dahsyat lagi jika makin banyak negara yang bergabung, khususnya yang diancam ISIS di kawasan tersebut.

Dengan bergabung dalam koalisi tersebut, Indonesia, India, Pakistan, Cina, Jepang dan negara-negara kuat di Asia lainnya mampu membangun kemampuan militer dan intelijensi mereka.

Melalui upaya ini, diharapkan mampu menumpas atau menangkap para pemimpin ISIS, mematahkan dukungan terhadap mereka dan struktur operasionalnya, dan menghancurkan operasi-operasi mereka.

Asia Mampu Memainkan Peran Penting

Serangan udara saja tidak akan mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Menyatukan kekuatan militer angkatan darat sangat penting untuk melemahkan dan menghancurkan ISIS. Tekad politik yang kuat adalah kunci untuk memerangi ISIS di lapangan, namun tanpa menimbulkan kekacauan dan korban massal yang mengingatkan pada peristiwa 9/11. Dukungan masyarakat tentunya akan mengalir dengan sendirinya.

Negara-negara dengan mayoritas berpenduduk muslim di kawasan Asia-Pasifik ini tentunya dapat memainkan peran penting dalam mencegah idelogi radikal, kampanye, dan propaganda ISIS.

Bagi koalisi yang dipimpin Amerika Serikat/Arab dan Rusia/Syiah, tentunya perjuangan mereka akan sia-sia jika mereka tidak bersatu melawan ancaman tersebut. Dengan berbagi pengetahuan intelijensi dan membangun atau mempertajam kemampuan dalam mengatasi, mengisolasi dan menghancurkan ISIS baik di pusat dan kawasan lainnya, misi mereka tentunya tidak akan sia-sia.

Mungkin dengan meningkatnya ancaman, berbagai koalisi ini mampu bersatu pada akhirnya.

Kasus Mehdi Nemmouche

Pentingnya kolaborasi antara pasukan dari negara-negara Eropa, Timur Tengah dan Asia tercetus usai terjadinya tragedi Mehdi Nemmouche, pria berusia 29 tahun berkebangsaan Perancis asli Aljazair. Empat orang terbunuh dalam serangan yang dilakukan Nemmouche di Museum Yahudi di Belgia, Mei 2014 lalu.

Setelah bergabung selama setahun dengan ISIS, Nemmouche sempat transit di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand dan Singapura, sebelum akhirnya masuk ke Eropa melalui Jerman untuk melancarkan aksinya di Belgia. Dia menempuh jalur berbeda kembali ke Eropa Barat untuk mengecoh pihak berwenang Eropa akan keberadaannya di Timur Tengah sebelumnya.

Sebelum serangan, Nemmouche sempat merekam sebuah video yang memperlihatkan bendera ISIS. Seandainya pihak berwenang Perancis mampu berbagi penemuan intelijensi mereka dengan pihak berwenang Asia, serangan tersebut mungkin masih dapat dicegah.

Karena itu, kerjasama internasional dan regional dalam bidang keamanan dan intelijensi amat penting saat ini dalam mengatasi ancaman serupa.

Pemerintah Harus Proaktif

Di kawasan Asia-Pasifik, aksi pencegahan yang dilancarkan pemerintah amat penting dalam menghadapi ancaman kelompok-kelompok yang berambisi untuk bergabung dengan ISIS pusat dalam membentuk daerah-daerah satelit.

Pemerintah harus mengambil tindakan legislatif dan eksekutif sebagai kunci dalam mencegah ISIS dalam menjalankan misi mereka ini. Pemerintah harus mengawasi dengan ketat baik individu maupun kelompok yang terlihat aktif mengadvokasi, mendukung dan berperan serta dalam kegiatan ISIS, untuk selanjutnya mengadili mereka secara hukum.

Untuk mencegah ISIS mendeklarasikan sebuah daerah menjadi kawasan miliknya, strategi harus dipusatkan untuk melumpuhkan kawasan intinya, satelit, dan penghubung. Tempo serangan-serangan ISIS di Irak dan Suriah memberikan kesempatan untuk melahirkan dan membentuk kelompok-kelompok baru di luar kawasan pusat konflik.

Jangan Berikan Toleransi di Dunia Maya

Negara-negara Asia-Pacifik juga dapat memainkan peran penting mereka dalam menangkal ISIS di dunia maya.

Antara 80 hingga 90 persen kampanye ISIS di dunia maya menyasar mereka yang berbicara dalam bahasa Arab. Namun kelompok-kelompok pendukung mereka di Asia-Pasifik juga menyediakan layanan media daring lainnya untuk mendukung kampanye mereka dalam merekrut dan menjadikan sebagian kalangan muslim di kawasan tersebut.

Mereka menyediakan layanan media daring tersebut dalam berbagai bahasa, seperti Melayu, Indonesia, Devehi, Urdu, Pashtu dan bahasa-bahasa lainnya di kawasan Asia, yang bertujuan mempromosikan ideologi ISIS yang menebar kebencian dan bermaksud menggantikan ajaran Islam pada umumnya. Sekitar 80 persen server laman media sosial berisi propaganda ISIS berada di Amerika Serikat dan Eropa.

Minimnya kepemimpinan, tekad dan strategi pemerintah dalam melawan propaganda ISIS di dunia maya menyebabkan ancaman tersebut akan tetap ada dan berkembang. Selama laman-laman sosial media tersebut tidak ditutup, ancaman tersebut akan terus berkembang.-

Pemerintah negara-negara kawasan Asia-Pasifik diharapkan tidak memberikan toleransi terhadap propaganda ISIS di dunia maya.

Ancaman ISIS makin terlihat tak hanya di dunia nyata, namun juga di dunia maya. Seiring gencarnya kampanye serangan darat terhadap ISIS, pemerintah negara-negara di kawasan ini juga diharapkan secara tegas mengatur penggunaan dan penyalahgunaan internet dalam mencegah ISIS dalam mengindoktrinasi pemikiran kaum muda lewat media sosial.

Dalam mencegah ISIS dalam merekrut komunitas Muslim di dunia maya, pemerintah diharapkan juga membangun kerjasama dengan sektor swasta, masyarakat sipil dan kelompok-kelompok masyarakat.

Untuk melawan eksploitasi teknologi yang luar biasa oleh ISIS, pemerintah disarakan membangun jaringan-jaringan yang terpercaya dengan pihak akademisi dan perusahaan-perusahaan penyedia jasa teknologi. Untuk melindungi masyarakat Muslim yang rentan terhadap serangan ISIS, pemerintah di kawasan tersebut dan para partner diminta untuk membangun pendekatan antarmasyarakat dan antarpemerintah.

Kedua pendekatan ini diharapkan akan mampu membangun: (a) program-program antiradikalisasi baik secara online maupun offline; dan (b) program-program deradikalisasi untk merehabilitasi mereka yang sudah terpengaruh propaganda ISIS.

Kegagalan dalam menjawab ancaman ISIS ini dikhawatirkan akan menghancurkan hubungan antarpemeluk agama dan antarsuku, yang pada akhirnya mengancam keharmonisan negara, yang penting dalam menjaga kemakmuran kawasan ini di abad ini.

Opini sepenuhnya milik penulis dan bukan BeritaBenar.

Tampilan selengkapnya