Follow us

Militer Filipina Hadapi Konfrontasi Signifikan dengan Pejuang ISIS

Opini oleh Rohan Gunaratna
2016-04-19
Email
Komentar
Share
Seorang tentara Filipina memegang bendera Filipina dalam sebuah rumah penuh lubang peluru di Mindanao, seminggu setelah terjadi serangan dari kelompok bersenjata yang terafiliasi dengan ISIS, 1 Maret 2016
Seorang tentara Filipina memegang bendera Filipina dalam sebuah rumah penuh lubang peluru di Mindanao, seminggu setelah terjadi serangan dari kelompok bersenjata yang terafiliasi dengan ISIS, 1 Maret 2016
Photo: RFA

Pertempuran penting oleh kelompok yang terasosiasi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Asia Tenggara, terjadi di pulau Basilan, Filipina, 9 April 2016 lalu. Walau begitu, Pemerintah Filipina tidak mengakui bahwa pasukan yang berhadapan langsung dengan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) tersebut adalah kelompok ISIS pimpinan Isnilon Hapilon.

Pertempuran itu mengakibatkan kerugian besar di pihak pemerintah Filipina dengan korban 18 tentara meninggal dunia dan 53 lainnya terluka.

Hapilon adalah mantan wakil pimpinan Abu Sayyaf Group (ASG) dan telah ditunjuk sebagai pimpinan ISIS di selatan Filipina. Para mantan anggota ASG di Basilan yang dipimpinnya telah bersumpah setia kepada Abu Bakar al-Baghdadi pada tahun 2015 dan telah menggabungkan kekuatan dengan kelompok-kelompok lain yang terasosiasi dengan ISIS.

Seratus dua puluh lima orang yang dipimpin Hapilon menunjukkan bahwa mereka dapat bertahan dan melawan AFP. Dengan kesuksesan ini, ISIS kemungkinan akan mendeklarasikan wilayat mereka di kepulauan Sulu.

Filipina harus menanggapi ancaman tersebut dengan serius bila mereka bertekad untuk mencegah kebangkitan ISIS di Mindanao dan implikasinya di Asia Tenggara. Pemerintah di Manila harus menjadikan perlawanan terhadap ISIS sebagai prioritas keamanan nasional dan meningkatkan kerjasama dengan mitra-mitranya di Asia Tenggara untuk menahan dan mengisolasi ancaman tersebut, daripada menyangkal keberadaan ISIS di sana.

ISIS meningkatkan kekutannya di Filipina

ISIS terus memperkuat pengaruhnya dan meningkatkan kekuasaannya di kawasan utara, selatan dan barat Mindanao di Filipina.

Di bagian utara Mindanao, Tawhid Wal Jihad telah mengganti namanya menjadi Islamic State of Lanao in Butig atau Negara Islam Lanao di Butig. Walaupun ISIS Pusat di Suriah dan Irak belum mengakui kelompok yang berbasis di Butig itu sebagai cabangnya, mereka merupakan ancaman besar karena anggotanya telah melawan AFP dan menyandera beberapa warga sipil.

Di selatan Mindanao, Ansar Khilafa Mindanao juga telah melawan AFP dan melakukan eksekusi penggal kepala seperti ISIS. Kelompok ini terlibat dalam pemindahan senjata ke ISIS Indonesia dan menjadi tuan rumah bagi instruktur pembuat bom asal Indonesia, Ibrahim Ali Sucipto, yang terbunuh pada 26 November 2015.

Tim mantan anggota ASG dipimpin Hapilon dan berbasis di Basilan adalah kelompok ISIS yang paling berpengaruh. Tim itu dianggap sebagai sebuah badan di Filipina yang sudah ditunjuk resmi oleh ISIS dan semakin mengemuka ketika Hapilon menggabungkannya dengan beberapa pejuang dari Malaysia.

Hadiah $5 juta untuk membunuh atau menangkap Hapilon

Operasi AFP pada 9 April bertujuan untuk menangkap Al Barka, basis ISIS, membebaskan para tawanan asing, dan membunuh atau menangkap Hapilon yang dicari oleh pihak Amerika Serikat dengan hadiah $5 juta bagi yang berhasil menangkap atau membunuhnya.

Operasi AFP didukung oleh Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang telah melakukan gencatan senjata dengan pemerintah sejak Maret 2014. Hubungan MILF dengan ASG memburuk setelah MILF ikut serta dalam proses perdamaian dan ASG Basilan bergabung dengan ISIS.

MILF menginformasikan pada AFP bahwa basis ISIS berada lima kilometer dari komunitas MILF di Sitio Bohe di Desa Macalang. AFP telah meminta MILF untuk meninggalkan area tersebut. Ketika pejuang dan keluarga mereka pindah, ISIS yang mendapat peringatan awal dan mempunyai persiapan yang baik, mengonfrontasi AFP. AFP gagal mengantisipasi persiapan ISIS dalam pertempuran bersenjata selama10 jam di desa Tipo-Tipo tersebut.

Artikel Julie S. Alipala berjudul “Neraka di Basilan: Ranjau Darat Meledak Disusul Tembakan di Mana-Mana” (“Hell in Basilan: Landmine Blast Followed by Gunfire Everywhere”) pada April 10, 2016 di Inquirer Mindanao, menunjukkan kegagalan angkatan darat dalam mempersiapkan pertempurannya dengan baik melawan ISIS. Beberapa dari mereka yang terluka adalah Komandan Batalion 44 Kol. Tommy Crosby dan beberapa perwira lainnya.

AFP berhasil menemukan mayat pejuang dan ahli bahan ledakan asal Maroko, Mohammad Khattab.

ISIS keluarkan propaganda setelah pertempuran

Dalam sebuah siaran pers berjudul “100 Anggota Pasukan Salib Filipina Terbunuh dalam Operasi oleh Tentara Khilafah di Filipina” (100 Killed from the Philippine Crusader Army in Operations by Soldiers of the Caliphate in Philippines) tertanggal 5 Rajab 1437 (13 April 2016), “Negara Islam, Filipina” menyatakan, “Tentara Khilafah telah berhasil, dengan berkah Allah Yang Maha Kuasa, menggagalkan upaya Pasukan Salib Filipina untuk mengambil alih kontrol posisi mujahidin di Filipina.

“Dengan rahmat Allah, tujuh mobil pembawa pasukan telah diledakkan dan semua penumpangnya terbunuh, dan terjadi juga pertempuran dengan pihak musuh, membunuh sejumlah tentaranya, dan yang lain melarikan diri, dikalahkan dan dipermalukan, berkat rahmat Allah. Hasil operasi tersebut membunuh hampir 100 anggota Pasukan Salib dan melukai belasan lainnya, sementara tiga saudara mujahidin menjadi martir dan begitulah kami menganggap mereka dan Allah yang Maha Mengetahui mereka.”

ISIS mempunyai kontrol atas kawasan di Filipina

Pasukan ISIS telah berhasil mengambil alih kontrol atas kawasan dan mendirikan pusat-pusat pelatihan di Filipina. Perlawanan terhadap ISIS memerlukan komitmen di tingkat dan kepemimpinan yang lebih tinggi. Daripada menurunkan pasukan bersenjata umumnya, akan lebih baik bila pasukan-pasukan operasi khusus yang memimpin perlawanan terhadap ISIS.

Dengan aset-aset intelijen terbaik mereka, Komandan Operasi Khusus AFP harus pindah ke Basilan dan tetap berada di Kepulauan Sulu sampai semua kelompok yang sudah bersumpah setia ke ISIS dibubarkan dan pimpinan-pimpinan mereka ditangkap atau terbunuh. Tidak ada waktu yang lebih baik dari sekarang untuk memobilisasi dan melancarkan operasi militer berdasarkan intelijen tanpa henti saat negara akan mendukung AFP atas pengorbanan besar mereka.

Bila tidak, pengaruh ISIS akan pelan-pelan menyebar dengan pasti dan kekuatan mereka membesar; sebuah fenomena yang telah terlihat setahun belakangan ini. Dengan akan adanya pemerintahan baru di Filipina, presiden yang baru akan harus menghadapi kebangkitan ISIS.

Manila harus terus bekerja sama dengan MILF dalam beberapa operasi pencegahan dan pendahuluan untuk mencegah ISIS semakin menyebar dan membesar. Pemerintahan negara-negara lain di kawasan harus mendukung Filipina dan mengusir ISIS keluar dari negara-negara mereka dan dari kawasan. Pertempuran ini harus menjadi penentu dan harus menjadi prioritas dalam visi dan misi pemerintah.

Opini dalam komentar ini adalah milik penulis dan tidak mewakili BeritaBenar.

Tampilan selengkapnya