Menaruh Tragedi Serangan Sigi dalam Konteks

Sempat dilumpuhkan pada 2016, kelompok teror MIT melakukan serangan terparah di tengah masa pandemi.
Opini oleh Alif Satria
Washington
2020-12-04
Share
Menaruh Tragedi Serangan Sigi dalam Konteks Pasukan TNI tiba di Desa Lembantongoa, Sigi, Sulawesi Tengah, 1 Desember 2020, untuk memburu Mujahidin Indonesia Timur, kelompok militan bersenjata terafiliasi ISIS, yang berada dibalik pembunuhan empat warga dan pembakaran sejumlah rumah di daerah terpencil itu.
Wahono/BenarNews

Serangan yang belum lama terjadi di Sigi, Sulawesi Tengah, oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) menandai perkembangan penting dalam lanskap terorisme Indonesia. Tidak hanya mewakili kemampuan MIT untuk meningkatkan daya bunuh operasionalnya di tengah pandemi, serangan itu juga menandakan ketahanan MIT meskipun menghadapi tekanan operasi kontraterorisme selama bertahun-tahun. Seiring dengan pemerintah Indonesia meningkatkan kehadiran pasukan militer dan polisi di Sulawesi Tengah untuk menumpas MIT sekali lagi, penting bagi pihak berwenang untuk juga menangani jaringan sosial dan dukungan organisasi tersebut di dalam komunitas sekitar Poso - komunitas yang secara bersamaan menjadi sumber dan korban ketahanan MIT.

Signifikansi serangan Sigi

Pada 27 November, MIT menyerang sebuah desa di Kabupaten Sigi, daerah tetangga basis operasi utama MIT di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Dalam beberapa jam, delapan anggota MIT membunuh empat anggota keluarga, membakar enam rumah, dan mencuri 40 kg beras. Meskipun para korbannya merupakan pemeluk agama Kristen, laporan menunjukkan bahwa serangan itu dimotivasi tidak oleh permusuhan agama dan lebih karena balas dendam atas pembunuhan dua militan MIT baru-baru ini dan kecurigaan bahwa anggota keluarga tersebut bertindak sebagai informan kepada polisi.

Serangan Sigi ini signifikan karena menunjukkan kemampuan MIT untuk tidak hanya mempertahankan tetapi juga meningkatkan daya bunuh mereka di tengah pandemi yang telah melumpuhkan organisasi teroris Indonesia lainnya. Sebelum serangan Sigi, MIT melakukan empat serangan lain pada tahun 2020 di mana mereka menyergap konvoi, memenggal kepala petani, dan menembak petugas polisi - tetapi hanya menewaskan dua korban. Sebagai perbandingan, korban serangan Sigi dan kerusakan infrastruktur yang terjadi menandai ada peningkatan signifikan dalam kebrutalan MIT. Seperti yang dicatat oleh Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR), serangan itu juga menandai jumlah korban terbesar yang diakibatkan oleh MIT dalam satu serangan. Operasi ini terjadi ketika organisasi teroris lainnya justru berjuang untuk melakukan serangan akibat pandemi, yang memaksa mereka untuk merelokasi dana operasional, menghadapi perselisihan internal, dan membangun kembali struktur organisasi.

Secara lebih luas, serangan Sigi menunjukkan bahwa MIT tetap tangguh dan relevan terhadap penduduk lokal meskipun mereka bertahun-tahun menghadapi tekanan operasi kontraterorisme dari pemerintah Indonesia. MIT dianggap berhasil dikalahkan oleh pihak berwenang pada tahun 2016 karena kematian para pemimpin utamanya dan berkurangnya keanggotaan sebagai akibat dari Operasi Tinombala - kampanye gabungan polisi-militer yang diluncurkan pada bulan Januari tahun itu. Serangan Sigi menandakan bahwa MIT masih sangat mampu menimbulkan rasa takut untuk memaksakan kepatuhan di antara penduduk lokal - dan ini patut diperhatikan mengingat Operasi Tinombala masih berlangsung. Data terakhir yang disediakan pemerintah di akhir 2019, diperkirakan ada sekitar 600 personil militer dan polisi yang hadir di Poso untuk Operasi Tinombala.

Tanggapan pemerintah

Menanggapi serangan di Sigi, pemerintah Indonesia telah meningkatkan operasi kontraterorisme di Poso. Presiden Joko Widodo memerintahkan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk membongkar tuntas MIT. Secara lebih agresif, Kapolri Idham Azis dikabarkan memerintahkan petugas polisi untuk menembak mati anggota MIT jika mereka melawan. Pemerintah mengerahkan 100 anggota pasukan Operasi Tinombala untuk melacak para pelaku di hutan Sulawesi Tengah, dan Panglima TNI Hadi Tjahjanto mengerahkan satuan baru TNI untuk pemberantasan terorisme (Koopsus) untuk membantu satuan yang ada di daerah tersebut.

Tanggapan terhadap serangan Sigi melanjutkan pola peningkatan ketergantungan Indonesia pada operasi kontraterorisme kinetik untuk mengatasi ancaman teroris. Hal ini terbukti pada tahun 2007 ketika Indonesia menghubungkan kekalahan afiliasi al-Qaeda Jemaah Islamiyah (JI) sebagian besar kepada pembongkaran basisnya di Poso setelah operasi gabungan TNI-Polri Operasi Tanah Runtuh pada tahun itu. Pihak berwenang pun sebagian besar mengaitkan kekalahan MIT pada tahun 2016 dengan keberhasilan Operasi Tinombala, operasi gabungan TNI-Polri. Baru-baru ini, Indonesia meningkatkan militerisasi infrastruktur kontraterorismenya dan menggunakan taktik penangkapan pemimpin organisasi serta penangkapan preventif untuk membungkam ancaman dari JI dan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang terkait dengan ISIS. Pada tahun 2020 saja, pihak berwenang telah menangkap lebih dari 80 tersangka JAD dan JI.

Meskipun operasi kinetik berhasil mengekang ancaman teroris Indonesia, sejarah telah menunjukkan bahwa pendekatan tersebut saja tidak cukup untuk menetralisirnya secara berkelanjutan. Walau Operasi Tanah Runtuh 2007 berhasil membuat JI untuk berhenti menggunakan kekerasan, operasi itu tidak menghentikan mereka untuk membangun kembali infrastruktur ekonomi, pendidikan, dan pelatihan militernya. Pada 2013, JI berhasil mengirim militannya ke Suriah dan pada 2020, mereka sekali lagi merencanakan serangan.

MIT, pada tahun 2016, menghadapi kondisi yang sama seperti saat ini. Saat itu, MIT memiliki sekitar 19 anggota yang diadu melawan pasukan gabungan TNI-Polri yang terdiri dari 2.400 personel. Operasi Tinombala berhasil menghancurkan struktur MIT dan menghentikan perekrutan mereka tahun itu. Tetapi pada tahun 2020, MIT telah mengumpulkan cukup banyak anggota untuk memperbarui serangan.

Melihat ketahanan MIT

Untuk memberantas MIT secara efektif, pemerintah Indonesia perlu menangani sumber ketahanan MIT: jaringan sosial dan dukungan populernya di dalam beberapa kantong komunitas di Poso. Sebagaimana dicatat dalam laporan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), lonjakan aktivitas MIT pada tahun 2020 dimungkinkan dengan meningkatknya keanggotaan mereka. Peningkatan ini dimungkinkan oleh mobilisasi anggota keluarga yang, meskipun tidak terlibat langsung dalam MIT, membantu MIT memperbarui perekrutan lokal. Selain itu, lonjakan keanggotaan MIT juga dimungkinkan oleh jaringan mantan kenalan JI sekaligus ulama lokal yang MIT gunakan untuk menyalurkan dana dan calon rekrutan di antara keluarga mantan narapidana teroris dari seluruh Sulawesi dan Jawa.

Terlebihnya, MIT masih mendapat dukungan kuat dari elemen masyarakat di Poso karena keterlibatan mereka dalam sejarah panjang konflik Poso, dan persepsi negatif terhadap polisi. Terbukti, ribuan orang menghadiri pemakaman Santoso pada 2016, dan ratusan menghadiri pemakaman dua anggota MIT yang terbunuh pada April 2020. Namun perlu dipertimbangkan, beberapa komunitas mungkin mendukung MIT karena takut. Pemenggalan kepala, yang menjadi ciri khas operasi MIT terhadap informan yang dicurigai, menunjukkan bahwa ada upaya konstan dari grup tersebut untuk memaksa kepatuhan di antara anggota komunitas.

Untuk mengatasi jaringan sosial MIT dan dukungan populernya di Poso, pemerintah perlu melengkapi pendekatan militeristik saat ini dengan evaluasi dan pengerjaan ulang program sosial terkait di daerah tersebut. Meskipun polisi Poso telah lama menerapkan program deradikalisasi yang banyak digembar-gemborkan, serangan Sigi menunjukkan bahwa upaya semacam itu tidak berhasil melemahkan dukungan lokal MIT. Selain itu, penting juga untuk memastikan bahwa gelombang operasi kontraterorisme saat ini tidak menimbulkan korban yang tidak perlu dan dapat semakin memperdalam permusuhan masyarakat terhadap aparat keamanan pemerintah. Pembunuhan tak disengaja terhadap warga sipil oleh operator Operasi Tinombala, seperti yang terjadi pada Juni dan Agustus ini, perlu dicegah dan dihukum dengan tegas.

Alif Satria adalah kandidat Masters dari Security Studies Program di Georgetown University, AS. Penelitiannya berfokus pada terorisme dan kekerasan politik di Asia Tenggara. Tulisan ini adalah murni opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan BenarNews.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya